Regional

Kasus Gagal Ginjal Meningkat, Tempat Cuci Darah di Purworejo Nyaris Penuh

Advertisement

PURWOREJO, KOMPAS.com – Fasilitas layanan cuci darah atau hemodialisa (HD) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dilaporkan nyaris penuh akibat lonjakan jumlah pasien gagal ginjal. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai ketersediaan tempat tidur di sejumlah rumah sakit yang melayani prosedur tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Purworejo, dr. Sudarmi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 69 tempat tidur untuk layanan HD yang tersebar di beberapa rumah sakit. Namun, dengan terus bertambahnya pasien, fasilitas yang ada kini mendekati kapasitas maksimal.

“Ke depan akan ada penambahan kapasitas, yakni 10 TT di RSUD dr. Tjitrowardojo dan tiga TT di RS Palang Biru. Harapannya, fasilitas ini tidak sampai penuh terpakai,” ujar dr. Sudarmi pada Selasa (21/4/2026).

Hipertensi dan Diabetes Jadi Pemicu Utama

Peningkatan kasus gagal ginjal kronis di Purworejo mayoritas disebabkan oleh komplikasi penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes melitus (DM). Kedua penyakit ini menjadi faktor utama tingginya angka pasien yang memerlukan cuci darah.

Data dari Dinkesda menunjukkan bahwa dari 239 ribu kasus hipertensi yang ada, baru sekitar 97 ribu yang kondisinya terkontrol. Sementara itu, untuk diabetes melitus, kasus yang ditemukan mencapai 11.559, jauh melebihi target temuan 7.035 kasus.

“Dua penyakit ini jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan komplikasi serius, salah satunya kerusakan ginjal. Pada tahap lanjut, pasien harus menjalani cuci darah secara rutin,” jelas dr. Sudarmi.

Kapasitas Layanan Hemodialisa di Purworejo

Saat ini, beban layanan cuci darah di Kabupaten Purworejo ditanggung oleh empat rumah sakit utama:

Advertisement

  • RSUD dr. Tjitrowardojo: 45 TT (akan ditambah 10 TT)
  • RSUD Tjokronegoro: 10 TT
  • RS Amanah Umat: 10 TT
  • RS Palang Biru: 4 TT (akan ditambah 3 TT)

Meskipun tren pasien dewasa yang menjalani cuci darah meningkat, Dinkesda mencatat belum ada pasien anak-anak di bawah usia 15 tahun yang memerlukan prosedur serupa di wilayah tersebut.

Imbauan Cek Kesehatan Rutin

Menanggapi kondisi ini, dr. Sudarmi menekankan pentingnya perubahan gaya hidup melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga disiplin dalam menjaga pola makan dan rutin berolahraga.

“Minimal satu tahun sekali melakukan cek kesehatan melalui program pemerintah. Jika sudah terdiagnosis hipertensi atau diabetes, maka wajib kontrol rutin setiap bulan,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa deteksi dini merupakan kunci utama untuk mencegah kerusakan ginjal berlanjut ke tahap gagal ginjal kronis, yang mengharuskan pasien bergantung pada mesin cuci darah seumur hidup.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2026/04/21/182559178/kasus-gagal-ginjal-meningkat-tempat-cuci-darah-di-purworejo-nyaris-penuh

Advertisement