Di era digital yang serba terhubung, media sosial kerap kali menjadi arena pembentukan standar, opini, dan bahkan tekanan yang tidak selalu sehat bagi remaja. Dalam lanskap ini, peran orang tua, khususnya ayah, menjadi kian krusial dalam mendampingi tumbuh kembang anak perempuan. Bukan sekadar sebagai benteng pertahanan, ayah diharapkan mampu menjadi pembimbing yang menanamkan kepercayaan, membuka ruang dialog, dan membantu anak memilah informasi yang valid dari yang perlu diabaikan.
Rio (45), seorang ayah dari dua anak perempuan yang kini beranjak dewasa dan remaja, berbagi pengalamannya dalam mencontohkan relasi yang sehat. “Kita harus jadi contoh buat anak-anak kita, mencontohkan langsung gimana sih relasi yang ideal itu. Harus dibentuk dari sekarang,” ujar Rio saat berbincang dengan Kompas.com pada Senin (20/4/2026).
Dilema Melindungi Anak di Dunia Maya
Menjadi orang tua bagi generasi Z menghadirkan tantangan tersendiri, menuntut keseimbangan antara melindungi anak tanpa terkesan mengekang. Rafli (39), ayah dari Zahira (10), berpendapat bahwa pendekatan yang rasional lebih efektif ketimbang larangan semata. Baginya, mendampingi anak dalam menyortir informasi di dunia maya adalah kunci agar mereka tidak kehilangan jati diri di tengah gempuran tren yang keliru.
“Kalau dibebasin akses ini itu, karena masih remaja awal, umur 10 tahun, masih labil. Takutnya terjerumus ke hal-hal negatif, mencontoh gaya berpakaian atau pake skincare yang bukan untuk usianya,” terang Rafli, Senin.
Momen Antar-Jemput Sekolah: Ruang “Curhat” Paling Nyaman
Membentengi anak dari ancaman pergaulan di dunia maya membutuhkan komunikasi yang cair dan penuh empati. Alih-alih melakukan diskusi formal, para ayah ini justru memanfaatkan celah dalam rutinitas harian sebagai momen untuk masuk ke dunia anak.
Rafli memilih memanfaatkan akhir pekan sebagai waktu untuk mengobrol santai dengan anaknya. Melalui aktivitas berdua, ia dapat menyisipkan nilai-nilai kehidupan tanpa membuat anak merasa sedang diceramahi. “Quality time sama anak, mungkin karena udah deket dari dulu sering jalan-jalan berdua anak, gampang buat bikin mereka terbuka sama apapun. Kitanya juga gampang masukin ajaran-ajaran, nasihat-nasihat,” kata Rafli.
Senada dengan Rafli, Rio menjadikan momen antar-jemput sekolah sebagai “ruang aman” untuk mendengarkan keluh kesah putri-putrinya. Di dalam kendaraan, komunikasi terjadi secara lebih natural karena perhatian ayah tidak terbagi oleh hal lain. “Di momen anter jemput ini anak suka curhat di sekolahnya ada apa, di medsos dia nemu apaan. Bukan berarti di rumah atau di momen lain anak tertutup, enggak, tapi emang pas anter jemput dia lebih terbuka,” ujar Rio.
Figur Laki-Laki Pertama Sebagai Kompas Moral
Segala bentuk dialog dan perlindungan tersebut pada akhirnya bermuara pada keteladanan. Anak perempuan memiliki insting tajam untuk merekam bagaimana figur ayah, sebagai laki-laki pertama dalam hidupnya, memperlakukan orang lain. Apa yang dilihat anak di rumah akan menjadi standar bagi mereka dalam menuntut penghargaan dari lawan jenis di masa depan.
“Dengan mencontohkan secara langsung cara kita bergaul, ngobrol ke sesama sepantaran, ke yang atas, atau ke yang bawah. Jadi dia langsung bisa melihat,” ujar Rafli.
Melalui teladan yang konsisten, ayah sebenarnya sedang membangun pertahanan mental anak agar mereka tidak menormalisasi perlakuan buruk dari siapa pun, baik di dunia maya maupun nyata. “Makanya kita itu harus jadi contoh yang baik. Enggak ada yang sempurna memang, cuma kalau kita tahu ada perilaku kita yang buruk, dan kita enggak mau anak berperilaku sama, ya yang buruk itu jangan ditonjolin ke anak,” imbau Rio.






