Regional

Perjuangan Maria Sekolahkan Anak hingga Kuliah, Kini Mengungsi akibat Erupsi Lewotobi

Advertisement

FLORES TIMUR, KOMPAS.com – Maria Magdalena Mulan (50), warga Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, harus kembali menghadapi cobaan hidup. Setelah berjuang membesarkan ketiga anaknya seorang diri pasca-kematian suaminya sembilan tahun lalu, kini ia terpaksa mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang terjadi sejak Desember 2023.

Maria tak pernah menyerah dalam memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Ia memikul tanggung jawab besar untuk menghidupi dan memastikan ketiga anaknya dapat mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. “Anak saya tiga orang. Satu sudah berkeluarga, satu kuliah dan satunya merantau di Jakarta,” ujar Maria kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Kisah perjuangan Maria dimulai pada tahun 2017 ketika suaminya, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di kantor kecamatan, meninggal dunia akibat sakit. Meskipun ada gaji pensiun sang suami, Maria menyadari bahwa jumlah tersebut tidak cukup untuk menopang kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya. Ia pun gigih memanfaatkan hasil kebun kemiri dan kelapa, serta sesekali menjual sayuran hasil buruannya di hutan. “Dulu saya biasa jual sayur pare. Saya cari di hutan kemudian jual,” kenangnya.

Tak hanya berjuang secara ekonomi, Maria juga aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan pernah mencoba peruntungan dengan membuat dan menjual kue di sekitar rumah. Namun, persaingan yang semakin ketat membuatnya harus menghentikan usaha tersebut. “Tapi sekarang saya sudah berhenti karena sudah banyak yang buka usaha kue,” tuturnya.

Ujian Baru Akibat Erupsi Lewotobi

Ketangguhan Maria kembali diuji ketika Gunung Lewotobi Laki-laki memuntahkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar pada Desember 2023. Semburan dahsyat itu mengarah langsung ke permukiman warga, memicu kepanikan dan memaksa ribuan orang mengungsi. Aliran lava bahkan meluncur sejauh ribuan meter, menghancurkan rumah-rumah warga.

Advertisement

“Kami sangat panik saat itu, situasi sangat mencekam,” kata Maria, menceritakan momen mencekam ketika bencana alam itu terjadi.

Kini, Maria dan ribuan penyintas lainnya terpaksa tinggal di hunian sementara Konga. Meski harus meninggalkan rumah dan segala kenangan di dalamnya, Maria tetap bersyukur atas kesempatan untuk terus bernapas. Ia meyakini bahwa di tengah kesulitan, selalu ada jalan keluar. Semangat pantang menyerah terus tertanam dalam dirinya, menjadi kekuatan untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2026/04/21/182936378/perjuangan-maria-sekolahkan-anak-hingga-kuliah-kini-mengungsi-akibat-erupsi

Advertisement