Money

Rupiah dan Ekonomi RI Masih Kuat, BI Rate Diprediksi Tetap 4,75 Persen

Advertisement

JAKARTA, – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang akan digelar April 2026. Keputusan ini didasari oleh pandangan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah masih terjaga dan kondisi ekonomi domestik tetap kuat.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa peluang kenaikan BI Rate pada rapat kali ini relatif kecil. “Menurut saya, peluang BI Rate naik relatif kecil dan BI diperkirakan masih menahan BI Rate di 4,75 persen,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Dari sisi pasar, Josua mengamati bahwa tekanan terhadap rupiah masih terasa, meskipun tidak dalam fase ekstrem. Per Senin (21/4/2026), indeks dolar Amerika Serikat (DXY) terpantau melemah ke kisaran 98,20. Namun, nilai tukar rupiah masih berada di sekitar Rp 17.144 per dolar AS, mencatat pelemahan sebesar 0,9 persen secara month-to-date dan 2,6 persen secara year-to-date.

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun berada di kisaran 6,60 persen. Angka ini turun 26 basis poin secara bulanan, namun masih tercatat naik 53 basis poin sejak awal tahun.

Inflasi Terkendali Meski Ada Kenaikan Harga Energi

Dalam aspek inflasi, kenaikan harga energi dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai belum memberikan tekanan signifikan dalam jangka pendek. Dampaknya terhadap inflasi bulanan diperkirakan terbatas karena hanya memengaruhi segmen konsumsi tertentu dengan porsi yang relatif kecil.

“Jadi menurut saya, kombinasi ini lebih mendorong BI untuk menahan suku bunga pada RDG bulan ini,” kata Josua.

Namun, Josua juga mengingatkan potensi peningkatan risiko inflasi apabila terjadi kenaikan harga energi dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah yang signifikan dalam jangka waktu lama. Situasi tersebut dapat mendorong pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM bersubsidi, yang pada gilirannya dapat membuat BI mengambil sikap yang lebih hawkish.

Bahkan, penurunan BI Rate pada tahun ini kemungkinan tidak akan terjadi. “Tetapi menurut saya, kata kuncinya adalah rata-rata dan keberlanjutan, bukan titik harian. Karena pasar beberapa hari terakhir justru masih menilai perdamaian yang rapuh bisa menurunkan harga minyak dan menekan dollar AS, BI lebih mungkin menunggu sambil melihat apakah perbaikan itu bertahan atau justru berbalik,” ungkapnya.

Dinamika Global dan Pengaruhnya ke Keputusan BI

Terkait dinamika global, termasuk sidang yang melibatkan Kevin Warsh di Amerika Serikat, Josua menilai dampaknya terhadap keputusan BI bersifat tidak langsung. Meskipun sidang tersebut penting bagi kredibilitas dan arah kebijakan The Fed, pengaruhnya lebih kepada sentimen pasar daripada menjadi faktor penentu kebijakan moneter BI.

Advertisement

“Menurut saya, BI tidak akan membuat keputusan naik atau tidak naik semata karena sidang Warsh. BI lebih akan melihat apakah sidang itu memicu gejolak nyata pada dollar AS, imbal hasil US Treasury, harga minyak, dan arus modal global semalam. Kalau tidak ada gejolak besar dari sana, pengaruhnya ke RDG besok akan terbatas,” tuturnya.

Pandangan Ekonom UI: Stabilitas Eksternal Jadi Prioritas

Senada dengan itu, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, juga berpendapat bahwa BI akan mempertahankan suku bunganya. Keputusan ini diambil mengingat adanya peningkatan tekanan eksternal yang terjadi bersamaan dengan mulai meredanya inflasi domestik.

Inflasi utama tercatat turun menjadi 3,48 persen (yoy) pada Maret 2026, mendekati batas atas kisaran target BI sebesar 1,5 hingga 3,5 persen. Penurunan ini terjadi karena efek basis rendah dari diskon tarif listrik sebelumnya mulai memudar.

Namun, perbaikan tersebut diiringi oleh meningkatnya ketidakpastian global, khususnya pasca eskalasi konflik AS-Iran. Hal ini meningkatkan risiko inflasi impor melalui kenaikan harga energi dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Guncangan eksternal ini mulai berdampak pada Indonesia, yang tercermin dari arus keluar modal bersih sebesar 1,47 miliar dolar AS, pelemahan rupiah sebesar 0,88 persen secara bulanan, dan penurunan cadangan devisa menjadi 148,2 miliar dolar AS.

“Dalam lingkungan ini, kami berpendapat bahwa BI harus mempertahankan BI rate di 4,75 persen, memprioritaskan stabilitas eksternal sambil memantau dengan cermat perkembangan tekanan inflasi,” jelas Riefky dalam hasil risetnya, Selasa.

Sumber: http://money.kompas.com/read/2026/04/22/094300926/rupiah-dan-ekonomi-ri-masih-kuat-bi-rate-diprediksi-tetap-4-75-persen

Advertisement