Nasional

Soal Kapal Perang AS di Selat Malaka, Menlu: Biasa, Patroli Kawasan

Advertisement

Keberadaan kapal perang Amerika Serikat di Selat Malaka, yang sempat menimbulkan spekulasi terkait dugaan operasi perburuan kapal tanker Iran, ternyata merupakan aktivitas rutin patroli di kawasan tersebut. Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, menegaskan bahwa pergerakan kapal perang AS di Selat Malaka merupakan hal yang biasa dan merupakan bagian dari prinsip Freedom of Navigation Patrol.

“Saya kira mereka biasa, ya, patroli di kawasan. Ada yang namanya Freedom of Navigation Patrol. Itu bukan baru kok, bukan sesuatu yang baru,” ujar Retno di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Sebelumnya, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) telah membenarkan adanya pergerakan kapal perang AS di Selat Malaka. Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Tunggul, menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan sistem Automatic Identification System (AIS), kapal perang AS, USS Miguel Keith, terdeteksi berada di perairan timur Belawan pada Sabtu (18/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

“Berdasarkan hasil pantauan perangkat Automatic Identification System (AIS) Publish memang benar USS Miguel Keith termonitor pada AIS pada pukul 15.00 WIB di perairan timur Belawan dengan haluan ke arah Barat Laut dengan kecepatan 13,1 knot,” ujar Tunggul kepada Kompas.com, Sabtu.

Menurut Tunggul, keberadaan kapal tersebut merupakan bagian dari aktivitas pelayaran internasional yang sah. Ia menjelaskan bahwa kapal perang AS tersebut sedang melaksanakan hak lintas transit (transit passage) sesuai ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, khususnya Pasal 37, 38, dan 39.

Advertisement

“Kapal perang AS tersebut sedang melaksanakan pelayaran yaitu Hak Lintas Transit (Transit Passage) sesuai Pasal 37, 38 dan 39 pada UNCLOS 1982 dengan melintas di Selat Malaka yang merupakan Strait used for international navigation atau selat yang digunakan untuk pelayaran internasional yang menghubungkan laut bebas/ZEE,” jelasnya.

Namun, Tunggul tidak memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai apakah aktivitas tersebut terkait dengan operasi militer khusus, seperti yang dikaitkan dengan isu perburuan kapal tanker Iran. Laporan media internasional sebelumnya menyebutkan bahwa militer AS berencana memperluas operasi pemburuan kapal tanker yang terkait Iran ke kawasan Indo-Pasifik, termasuk wilayah sekitar Selat Malaka. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, yang menyebut pihaknya akan melakukan aktivitas pencegahan maritim terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam pengangkutan minyak ilegal.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2026/04/22/15032311/soal-kapal-perang-as-di-selat-malaka-menlu-biasa-patroli-kawasan

Advertisement