Regional

Tiga Jam Penentu Mimpi, Kisah Peserta UTBK di UPI Bandung yang Pernah Gagal dan Mencoba Kembali

Advertisement

BANDUNG, KOMPAS.com – Suasana tegang menyelimuti para peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Selasa (21/4/2026). Dalam kurun waktu sekitar tiga jam, mereka mengerahkan segala kemampuan demi meraih kursi di perguruan tinggi negeri impian.

Salah satu peserta yang hadir di lokasi ujian adalah Salwa Azzahra (18), seorang siswi asal Kabupaten Cianjur. Ia datang bersama seorang temannya, menempuh perjalanan sejak sore hari sebelumnya untuk mengejar kesempatan emas ini.

“Ke sini berdua sama teman. Dari (Cianjur) dari jam 4 sore kemarin, nginap di teman,” ungkap Salwa saat berbincang dengan Kompas.com di lokasi ujian, dengan raut wajah yang masih menyimpan kecemasan.

Tahun ini, Salwa memutuskan untuk mengubah strateginya dengan memilih jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Keputusan ini berbeda dengan upayanya tahun lalu yang terfokus pada jurusan Ilmu Komunikasi. Meskipun sempat gagal di seleksi sebelumnya, tekad Salwa untuk menempuh pendidikan tinggi negeri tidak pernah padam.

Salwa memilih mengambil jeda satu tahun atau “gap year” setelah lulus SMA. “Gap year setahun. Sekarang jurusan kesehatan masyarakat. Tahun kemarin daftar ilmu komunikasi Unpad, ternyata tidak diterima,” jelasnya.

Ia mengaku jurusan Kesehatan Masyarakat dipilih karena dinilai lebih sesuai dengan minat dan panggilan hatinya. “Kesehatan masyarakat itu identik dengan menolong ya. Kayaknya passion aku banget. Pahala juga nolong orang,” tuturnya, menyiratkan motivasi yang lebih dalam dari sekadar pilihan akademis.

Selain kesiapan mental, Salwa juga telah mengasah kemampuan akademiknya secara intensif dalam dua bulan terakhir. Ia mengikuti berbagai latihan tes untuk memaksimalkan peluangnya. “Ikutan tes sekitar dua bulan,” katanya.

Advertisement

Dengan segala persiapan yang telah dilakukannya, Salwa tak lupa menyematkan harapannya. “Tentunya harapannya lulus,” tegasnya, sebuah pernyataan sederhana namun sarat makna.

Kisah serupa juga datang dari Muhammad Zaki, peserta asal Kota Bandung yang turut berjuang di hari yang sama. Zaki memilih jurusan Akuntansi, pilihan yang sama seperti tahun sebelumnya.

Ia juga mengambil keputusan “gap year” setelah tidak berhasil lolos pada seleksi tahun lalu. “Gap year karena tahun kemarin sama ikutan juga tidak lolos. Sama jurusan akuntansi,” ungkap Zaki.

Zaki mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari, termasuk dengan belajar secara mandiri dan memanfaatkan sumber daya daring. “Persiapan khusus belajar dari jauh jauh hari. Sama lihat dari YouTube juga,” kata Zaki, menunjukkan kegigihannya dalam meraih cita-cita.

Sumber: http://bandung.kompas.com/read/2026/04/21/171043878/tiga-jam-penentu-mimpi-kisah-peserta-utbk-di-upi-bandung-yang-pernah-gagal

Advertisement