JAKARTA, Kompas.com — Lonjakan harga dan gangguan pasokan pupuk global sepanjang 2026 memberikan gambaran kesenjangan yang kian lebar antarnegara. Di saat banyak negara bergulat dengan krisis pupuk, Tiongkok justru mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga, berkat strategi produksi urea berbasis batu bara.
Pendekatan ini berbeda dengan praktik umum di banyak negara yang mengandalkan gas alam sebagai bahan baku utama produksi pupuk nitrogen. Ketika konflik di Timur Tengah memicu gejolak rantai pasok global, basis produksi Tiongkok yang kokoh dengan batu bara terbukti menjadi bantalan yang efektif melindungi sektor pertanian domestiknya dari tekanan eksternal.
Keunggulan Strategis Basis Batu Bara Tiongkok
Mayoritas produsen pupuk nitrogen dunia mengadopsi gas alam sebagai bahan baku utama. Namun, Tiongkok menempuh jalur yang berbeda. Sekitar 78 persen produksi urea di Tiongkok berasal dari batu bara, sumber daya energi yang melimpah di dalam negeri.
Struktur produksi ini membebaskan Tiongkok dari ketergantungan yang signifikan terhadap impor energi, terutama gas alam, yang menjadi komoditas paling rentan terdampak dalam konflik global. Sebaliknya, negara-negara produsen pupuk yang bergantung pada gas alam terpaksa menanggung kenaikan biaya produksi seiring meroketnya harga energi global.
Konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi vital melalui Selat Hormuz, salah satu arteri perdagangan pupuk global, memicu lonjakan harga pupuk urea internasional hingga sekitar 70 persen. Namun, di Tiongkok, harga pupuk domestik tetap relatif stabil. Hal ini dimungkinkan karena produksi dalam negeri tidak tersentuh oleh dinamika pasar energi global, berbeda dengan produsen berbasis gas yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga.
Produksi Melimpah, Pasokan Domestik Terjaga
Ketahanan Tiongkok tidak hanya ditopang oleh sumber energi, tetapi juga oleh kapasitas produksi yang masif. Pada tahun 2026, produksi pupuk urea Tiongkok diproyeksikan mencapai rekor 76,5 juta ton. Angka ini bahkan melampaui kebutuhan domestik, menyisakan surplus sekitar 10,5 juta ton.
Surplus ini memberikan fleksibilitas bagi pemerintah untuk mengelola pasokan, termasuk menahan ekspor guna menjaga stabilitas harga di pasar domestik. Kebijakan pembatasan ekspor sebagai instrumen penjagaan ketahanan pangan bukan hal baru bagi Tiongkok. Dalam kondisi pasar global yang bergejolak, kebijakan ini diperkuat.
Pemerintah Tiongkok bahkan menunda keputusan ekspor pasca-musim semi hingga Mei 2026 untuk memastikan kondisi domestik tetap terkendali. Selain itu, cadangan pupuk nasional juga menjadi andalan. Dalam situasi darurat, cadangan ini dilepas lebih cepat dari jadwal normal untuk menstabilkan pasar, bahkan setidaknya 15 hari lebih awal dari biasanya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama musim tanam.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Pasar Pupuk Global
Gangguan utama pasar pupuk global saat ini bersumber dari konflik di Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia, mengalami hambatan distribusi yang signifikan. Akibatnya, pengiriman pupuk berbasis nitrogen, termasuk urea, terhambat.
Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan industri pupuk global pada gas alam. Ketika pasokan energi terganggu, produksi pupuk pun ikut terimbas. Harga pupuk urea tercatat mengalami kenaikan sekitar 80 dollar AS per ton sejak konflik dimulai.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah responsif. Di Amerika Serikat dan Australia, petani beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk, seperti kedelai dan barley. India, yang sangat bergantung pada impor pupuk dari Timur Tengah, bahkan meningkatkan subsidi pupuk sebesar 11,6 persen untuk melindungi petaninya.
Langkah-langkah tersebut mencerminkan posisi reaktif banyak negara dalam menghadapi krisis, bukan preventif.
Kebijakan Proteksi Tiongkok Memperketat Pasar Global
Di tengah ketahanan domestiknya, Tiongkok menerapkan kebijakan yang berdampak luas terhadap pasar global. Pemerintah membatasi ekspor pupuk untuk menjaga pasokan di dalam negeri. Langkah ini secara signifikan mengurangi ketersediaan pupuk di pasar internasional.
Tiongkok sebelumnya merupakan eksportir pupuk besar dengan nilai lebih dari 13 miliar dollar AS. Namun, pembatasan baru diperkirakan dapat mengurangi ekspor hingga 75 persen, atau sekitar 40 juta ton. Kebijakan ini memperparah kelangkaan global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor dari Tiongkok.
Negara seperti Brasil, Indonesia, Thailand, Malaysia, hingga India menghadapi risiko kekurangan pasokan. Permintaan dari negara-negara tersebut tidak selalu dapat dipenuhi karena prioritas Tiongkok tetap pada stabilitas domestik. India, misalnya, telah meminta Tiongkok untuk melepas pasokan urea, namun belum tentu mendapat respons positif jika bertentangan dengan kebijakan internal Tiongkok.
Perbedaan Respons Antarnegara
Ketahanan Tiongkok menciptakan kontras yang tajam dengan kondisi di negara lain. Sementara Tiongkok mampu mempertahankan produksi dan harga, negara lain harus beradaptasi cepat terhadap tekanan pasar. Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan perubahan struktural dalam produksi pupuk.
India, misalnya, mulai mengeksplorasi gasifikasi batu bara untuk memproduksi urea sebagai alternatif dari ketergantungan pada gas alam. Langkah ini menunjukkan bahwa model Tiongkok mulai dilihat sebagai referensi, meski memiliki tantangan tersendiri, termasuk aspek lingkungan. Di sisi lain, negara-negara Barat menghadapi kendala dalam meningkatkan produksi karena keterbatasan pasokan energi dan kebijakan transisi energi. Eropa, misalnya, mengalami penurunan produksi pupuk setelah kehilangan pasokan gas dari Rusia.
Implikasi terhadap Pola Pertanian Global
Perbedaan akses terhadap pupuk mulai memengaruhi pola pertanian global. Petani di negara dengan biaya pupuk tinggi cenderung mengurangi penggunaan atau beralih ke tanaman dengan kebutuhan nutrisi lebih rendah. Sebaliknya, petani di Tiongkok tetap dapat menanam komoditas dengan kebutuhan pupuk tinggi, seperti jagung. Hal ini memberikan keuntungan kompetitif dalam produksi pangan.
Di tengah tekanan global, Tiongkok mampu mempertahankan produktivitas tanpa harus mengorbankan margin keuntungan petani. Sementara itu, di banyak negara lain, kenaikan biaya pupuk berpotensi menekan produksi dan meningkatkan harga pangan.
Strategi Ketahanan yang Terintegrasi
Ketahanan Tiongkok tidak hanya berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi dari beberapa kebijakan dan kondisi struktural. Pertama, penggunaan batu bara sebagai bahan baku utama memberikan kemandirian energi. Kedua, kapasitas produksi yang besar memastikan pasokan tetap mencukupi. Ketiga, kebijakan ekspor yang fleksibel memungkinkan pemerintah mengontrol pasar domestik.
Keempat, cadangan pupuk nasional menjadi instrumen tambahan untuk meredam gejolak. Kombinasi ini menciptakan sistem yang relatif tahan terhadap guncangan eksternal. Dalam konteks krisis global, pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana kebijakan industri dan energi dapat berperan langsung dalam menjaga stabilitas sektor pertanian.
Namun, di saat yang sama, langkah-langkah tersebut juga membawa dampak terhadap pasar global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor pupuk. Ketika Tiongkok memilih untuk memprioritaskan pasar domestik, tekanan pada pasar internasional pun semakin meningkat. Situasi ini memperlihatkan bagaimana satu negara dapat memengaruhi keseimbangan global, khususnya dalam komoditas strategis seperti pupuk.






