Mojokerto, Kompas.com – Jembatan Cangar, yang menjadi jalur alternatif penting antara Mojokerto dan Batu, mendadak menjadi sorotan publik di media sosial. Kawasan konservasi ini dipadati pengunjung setelah ditemukannya sesosok pria asal Trowulan, Kabupaten Mojokerto, yang tewas di dasar jembatan pada Selasa (31/3/2026) lalu.
Di lokasi, beberapa pengunjung terlihat berhenti untuk meletakkan berbagai macam benda, mulai dari bunga, rokok, kopi, hingga aneka jajanan di atas trotoar jembatan. Aksi ini dilakukan tepat di titik di mana korban terakhir kali terlihat sebelum dilaporkan jatuh ke dasar jurang.
Bentuk Keprihatinan yang Menuai Kontroversi
Fenomena ini muncul sebagai respons spontan masyarakat atas rasa empati terhadap korban yang diketahui berinisial MMA (24). Namun, tindakan menaruh sesaji dan kerumunan warga di jembatan tersebut memicu perdebatan di kalangan warganet. Sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk penghormatan, sementara yang lain khawatir tindakan ini justru dapat dianggap sebagai dukungan terhadap aksi tragis tersebut.
Kepala UPT Tahura R Soerjo, Agustiningtyas, membenarkan adanya fenomena unik ini. Meskipun menghargai kearifan lokal yang berkembang, pihaknya tetap melakukan pembersihan demi menjaga keasrian kawasan hutan lindung.
“Kejadian tersebut berada di Jembatan Cangar, masuk wilayah Batu. Begitu masyarakat menaruh itu, ya kami bersihkan,” ujar Agustiningtyas saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Senin (20/4/2026).
Larangan Berhenti dan Berfoto di Jembatan
Pihak pengelola menekankan bahwa Jembatan Cangar berfungsi sebagai jalan provinsi yang melintasi kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Masyarakat diimbau untuk tidak menyalahgunakan fungsi jembatan, baik untuk berswafoto maupun berkumpul.
“Akan sangat bijak ketika kemudian masyarakat memanfaatkan jembatan itu, murni hanya sebagai tempat sarana lalu lintas tidak untuk tempat selfie, nongkrong dan lainnya,” jelas Agustiningtyas.
Ia menyarankan para wisatawan untuk memanfaatkan fasilitas tempat istirahat resmi yang telah disediakan. Tempat-tempat tersebut diklaim lebih aman dan menawarkan pemandangan indah di sepanjang jalur Pacet-Cangar.
Rekomendasi Spot Istirahat Aman:
- Watu Ondo
- Watu Lumpang
Risiko berhenti di jembatan meliputi membahayakan keselamatan pengguna jalan lain dan berpotensi menimbulkan sampah di kawasan hutan.
Dishub Jatim Tingkatkan Patroli
Senada dengan pihak Tahura, Kasi Dalops UPT P3 LLAJ Mojokerto Dinas Perhubungan Jatim, Akhmad Yazid, menegaskan bahwa area jembatan harus steril dari kendaraan yang parkir. Ia menekankan bahwa larangan berhenti dan berfoto di jembatan sudah berlaku bahkan sebelum kejadian tragis tersebut.
“Pada intinya setiap pengendara dilarang berhenti dan berfoto di jembatan, dan larangan itu sudah berlaku sebelum adanya kejadian tersebut,” tegas Yazid.
Dinas Perhubungan akan mengintensifkan patroli bersama tim Tahura untuk membubarkan kerumunan. Kehadiran kendaraan yang parkir di bahu jembatan dinilai sangat membahayakan, terutama mengingat jalur yang tergolong sempit saat kendaraan berpapasan.
Tragedi MMA dan Mitos di Jembatan Cangar
Sebelumnya, MMA ditemukan tewas di sungai bawah jembatan dengan luka parah di bagian kepala. Berdasarkan rekaman kamera dasbor salah satu pengguna jalan, korban diduga kuat melakukan aksi bunuh diri. Di lokasi kejadian, polisi menemukan satu unit sepeda motor Honda Beat bernopol S 4184 NBW milik korban yang terkunci stang. Di dalam jok motor, ditemukan dompet, ponsel, tas pinggang, dan pakaian korban.
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/






