Amazon dikabarkan selangkah lagi mengakuisisi Globalstar, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi satelit orbit rendah Bumi (LEO). Nilai kesepakatan ini diperkirakan mencapai 11,57 miliar dollar AS, atau setara dengan Rp 197,7 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.100 per dollar AS. Langkah strategis ini secara langsung memperketat persaingan Amazon dengan Starlink milik SpaceX di pasar layanan internet satelit global yang kian dinamis.
Menurut laporan Yahoo Finance pada Rabu (22/4/2025), akuisisi Globalstar merupakan bagian integral dari strategi Amazon untuk memperkuat bisnis konektivitas satelitnya. Selain itu, akuisisi ini juga dirancang untuk memperluas jangkauan layanan langsung ke perangkat atau direct-to-device (D2D), serta meningkatkan aksesibilitas layanan di wilayah yang belum tersentuh oleh jaringan terestrial.
Amazon menyatakan bahwa melalui akuisisi ini, perusahaan akan mendapatkan akses terhadap operasi satelit dan infrastruktur yang dimiliki Globalstar. Lebih lanjut, Amazon juga akan memperoleh lisensi spektrum mobile satellite services (MSS) yang memiliki otorisasi global. Kesepakatan ini membuka jalan bagi integrasi layanan Globalstar ke dalam Amazon Leo, jaringan satelit milik Amazon sendiri.
Dorong Layanan D2D dan Perluas Konektivitas
Dengan integrasi tersebut, Amazon menargetkan layanan satelit langsung ke perangkat (D2D) dapat mulai beroperasi pada tahun 2028. Layanan ini nantinya akan mendukung berbagai jenis komunikasi, mulai dari suara, data, hingga pesan, langsung ke perangkat seluler tanpa bergantung pada menara seluler.
Jaringan Globalstar saat ini dimanfaatkan untuk koneksi berdata rendah, termasuk untuk layanan darurat dan konektivitas di wilayah terpencil. Setelah akuisisi, kapasitas yang ada akan diperluas dalam ekosistem Amazon Leo.
Selain Globalstar, Amazon juga menjalin kerja sama dengan Apple untuk memastikan layanan satelit tetap berjalan di perangkat iPhone, Apple Watch, serta fitur Emergency SOS berbasis satelit. Globalstar sendiri telah menjadi mitra Apple untuk layanan tersebut sejak peluncuran iPhone 14 dan model-model yang lebih baru. Apple diketahui memiliki sekitar 20 persen saham di Globalstar setelah melakukan investasi pada tahun 2024.
Target Satelit dan Persaingan dengan Starlink
Amazon juga tengah gencar membangun jaringan satelitnya sendiri. Targetnya adalah memiliki sekitar 3.200 satelit di orbit rendah Bumi pada tahun 2029. Setengah dari jumlah tersebut ditargetkan sudah beroperasi sebelum tenggat waktu regulasi pada Juli 2026.
Sebagai perbandingan, Globalstar saat ini mengoperasikan lebih dari 200 satelit dan berencana menambah sekitar 24 satelit dalam pengembangan jaringan barunya. Setelah akuisisi, layanan Amazon Leo D2D diharapkan mampu menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan sistem lama.
Langkah Amazon ini semakin memperkuat persaingan langsungnya dengan Starlink milik SpaceX. Starlink saat ini telah mengoperasikan sekitar 10.000 satelit dan melayani lebih dari 9 juta pengguna di seluruh dunia. Starlink juga telah mengembangkan layanan direct-to-device melalui kemitraan dengan berbagai operator telekomunikasi, termasuk T-Mobile.
Persetujuan dan Jadwal Penyelesaian
Akuisisi Globalstar oleh Amazon telah mendapatkan persetujuan dari sekitar 58 persen pemegang hak suara. Kesepakatan ini ditargetkan rampung pada tahun 2027. Namun, penyelesaian akhir masih bergantung pada persetujuan regulator, termasuk Federal Communications Commission (FCC), serta pemenuhan target pengembangan satelit.
Dengan langkah ini, Amazon kian memperluas posisinya di industri konektivitas satelit global yang semakin kompetitif. Persaingan di sektor komunikasi berbasis luar angkasa ini ditandai dengan meningkatnya investasi dari perusahaan teknologi raksasa.






