Lestari

Bauran Energi Bersih Dunia Melonjak, China dan India di Posisi Teratas

Advertisement

Bauran energi bersih dunia mengalami lonjakan signifikan, dengan China dan India memimpin di garis depan dalam peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Laporan terbaru dari lembaga think tank Ember menyoroti bagaimana krisis energi global justru memicu akselerasi transisi ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

China dan India Pimpin Pertumbuhan Energi Terbarukan

Berdasarkan analisis Ember, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di China diproyeksikan mencapai 887 terawatt hour (TWh) pada tahun 2025. Angka ini melampaui total pertumbuhan permintaan listrik global yang diperkirakan sebesar 849 TWh. Dalam periode yang sama, penggunaan pembangkit energi fosil di China tercatat menurun 0,9 persen atau setara dengan 56 TWh, sementara di India penurunannya lebih signifikan, yakni 3,3 persen atau 56 TWh.

Analis Data Senior Ember, Nicolas Fulghum, menjelaskan, “Mereka sekarang secara agresif mengejar strategi diversifikasi dengan memasukkan energi terbarukan ke dalam bauran. Dan sumber-sumber inilah yang menjadi pendorong terbesar perubahan dalam sistem listrik mereka saat ini.”

China secara konsisten memimpin dalam penggunaan energi surya, menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan kapasitas dan produksi surya global tahun lalu. Kontribusi mereka juga signifikan dalam peningkatan energi angin global, dengan tambahan kapasitas sebesar 138 TWh. Sementara itu, India mencatatkan peningkatan rekor dalam produksi energi surya, angin, dan tenaga air. Fulghum menambahkan bahwa pertumbuhan pembangkit fosil di India telah melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di negara maju, Amerika Serikat dan Eropa juga menunjukkan kemajuan dalam energi surya. “AS dan Eropa masing-masing menambah 85 terawatt hour dan 60 terawatt hour energi surya tahun lalu, sementara bahan bakar fosil mengalami sedikit peningkatan,” ujar Fulghum.

Pangsa Energi Terbarukan Capai Sepertiga Bauran Listrik Global

Laporan Ember menganalisis data listrik dari 215 negara, dengan fokus pada catatan tahun 2025 di 91 negara yang merepresentasikan 93 persen permintaan global. Hasilnya menunjukkan bahwa pangsa energi terbarukan, yang mencakup surya, angin, tenaga air, dan energi bersih lainnya, untuk pertama kalinya mencapai lebih dari sepertiga bauran listrik dunia. Angka ini meningkat menjadi 33,8 persen atau setara dengan 10.730 TWh.

Angin Segar di Tengah Krisis Iklim dan Energi

Peningkatan pesat energi terbarukan ini dinilai sebagai “angin segar” bagi upaya global memerangi perubahan iklim yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Analisis ini juga sangat relevan di tengah krisis energi global yang diperparah oleh konflik geopolitik.

“Capaian seperti energi terbarukan melampaui batu bara memang penting, tetapi tidak menceritakan keseluruhan kisah sektor listrik. Perbedaan besar dibanding 10–15 tahun lalu, ketika pemerintah hanya berjanji membangun energi terbarukan, adalah bahwa sekarang janji-janji tersebut jauh lebih dapat dipercaya,” tegas Fulghum.

Advertisement

Energi surya, yang tumbuh 30 persen pada tahun 2025, mampu memenuhi tiga perempat dari kenaikan bersih permintaan listrik tahun lalu. Jika digabungkan dengan energi angin, kedua sumber energi ini bahkan sanggup memenuhi 99 persen dari kenaikan tersebut.

Penurunan Penggunaan Pembangkit Fosil dan Peran Penyimpanan Baterai

Secara global, penggunaan pembangkit berbahan bakar fosil mengalami penurunan sekitar 0,2 persen pada tahun 2025, setara dengan 38 TWh. Fulghum juga menyoroti pertumbuhan pesat dalam teknologi penyimpanan baterai yang sejalan dengan percepatan energi surya. Kapasitas penyimpanan baterai dilaporkan meningkat 46 persen pada tahun 2025.

Ember memperkirakan kapasitas baterai yang ditambahkan tahun lalu cukup untuk menggeser 14 persen produksi energi surya tambahan dari siang hari ke waktu lain dalam sehari. Hal ini menjadi kunci penting dalam memaksimalkan pemanfaatan energi surya di luar jam produksi.

“Meski pertumbuhan yang dipercepat dan peningkatan permintaan listrik akibat pembangunan kendaraan listrik, pompa panas, serta elektrifikasi sektor industri, energi bersih akan mampu secara struktural memenuhi peningkatan permintaan tersebut dalam beberapa tahun ke depan, sebelum kemudian membalikkan tren dan mengurangi penggunaan pembangkitan fosil,” kata Fulghum.

Tantangan dan Prospek Energi Bersih

Di tengah dorongan untuk meningkatkan produksi bahan bakar fosil di beberapa negara, seperti yang terjadi di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, pembangkit fosil di Eropa justru terus mengalami penurunan. Dekan Columbia University Climate School, Alexis Abramson, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya yang menentang energi bersih, transisi energi global terus mengalami kemajuan.

“Saat kita melihat harga minyak sangat tidak stabil saat ini karena perang, saya pikir semakin banyak orang melihat argumen keamanan nasional sebagai alasan untuk memikirkan bagaimana kita meningkatkan elektrifikasi dan memanfaatkan tambahan energi surya dan angin, yang tidak bergantung pada negara lain,” ujar Abramson.

Sumber: http://lestari.kompas.com/read/2026/04/22/192000386/bauran-energi-bersih-dunia-melonjak-china-dan-india-di-posisi-teratas

Advertisement