Properti

Bukan Investor, 90 Persen Apartemen Mewah di Dharmawangsa Dibeli End User

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Pasar properti mewah di Jakarta menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah ketidakpastian ekonomi, terbukti dari tingginya penyerapan unit di kawasan prestisius Dharmawangsa. Proyek apartemen Savyavasa, hasil kolaborasi PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSI Group) dan Swire Properties, mencatat penjualan yang signifikan sejak diluncurkan pada tahun 2022.

Dari total 402 unit apartemen yang ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 8,5 miliar (belum termasuk PPN) hingga Rp 19,5 miliar, kini hanya tersisa 30 persen unit yang belum terjual. Unit-unit yang masih tersedia berada di Tower II dan III, dengan luas mulai dari 133 meter persegi hingga 260 meter persegi.

Kecepatan penyerapan pasar ini mengindikasikan bahwa bagi individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals), properti di lokasi yang memiliki nilai historis dan kelangkaan tetap menjadi pilihan utama untuk menjaga nilai aset.

Konteks Geografis dan Keunikan Lokasi

Penjualan optimal apartemen Savyavasa tidak lepas dari lokasinya di Dharmawangsa, sebuah kawasan yang telah berkembang menjadi hunian prestisius di Jakarta. Berbeda dengan pusat bisnis yang padat, Dharmawangsa dirancang dengan kepadatan rendah dan ruang hijau yang dominan, sesuai dengan rencana besar Garden City Kebayoran Baru tahun 1948.

Chief Operating Officer PT Jakarta Setiabudi International Tbk, Bram Van Hoof, menjelaskan keunikan posisi properti ini. “Kami mendedikasikan lebih dari 70 persen dari total lahan seluas 2,8 hektar sebagai ruang terbuka hijau. Di tengah kawasan dengan ketersediaan lahan yang sangat terbatas, Savyavasa menghadirkan aset nyata yang nilainya akan terus terjaga di berbagai siklus ekonomi,” ujar Bram kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Bram menambahkan bahwa Savyavasa merupakan satu-satunya hunian mewah yang telah rampung sepenuhnya di kawasan Dharmawangsa.

Faktor Kelangkaan dan Tren Pasar Properti Mewah

Analisis pasar menunjukkan bahwa kelangkaan menjadi pendorong utama di balik tingginya permintaan apartemen mewah di Jakarta Selatan. Laporan dari Colliers International mencatat bahwa pasokan unit apartemen baru di lokasi premium seperti Dharmawangsa hampir tidak ada dalam beberapa tahun terakhir.

Keterbatasan lahan terus mendorong kenaikan harga tanah, yang secara otomatis meningkatkan nilai investasi unit yang sudah ada. Hingga kuartal pertama 2026, sektor properti mewah menunjukkan performa yang lebih tangguh dibandingkan segmen menengah.

Advertisement

Meskipun harga sewa apartemen di Jakarta secara umum mengalami tekanan akibat banyaknya pasokan, unit-unit di lokasi spesifik seperti Dharmawangsa justru menarik minat dari kalangan diplomat dan ekspatriat senior. Perubahan regulasi kepemilikan properti bagi warga asing yang kini lebih sederhana juga turut mendorong minat investor regional untuk diversifikasi aset di Asia Tenggara.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menekankan pentingnya lokasi sebagai variabel penentu utama. “Di Jakarta, kawasan yang memiliki aksesibilitas tinggi ke pusat bisnis namun tetap menawarkan privasi akan selalu memiliki permintaan yang stabil,” katanya.

Dominasi Pembeli Pengguna Akhir

Salah satu temuan menarik dari operasional Savyavasa adalah profil pembelinya yang didominasi oleh pengguna akhir (end-user), mencapai 90 persen. Fenomena ini berbeda dengan siklus properti satu dekade lalu yang lebih banyak digerakkan oleh spekulan atau investor jangka pendek.

Dominasi end-user memberikan stabilitas pada sebuah proyek hunian. Ketika pemilik unit tinggal di sana, ekosistem komunitas akan terbentuk secara alami, yang berkontribusi pada pemeliharaan bangunan dan nilai sewa di masa depan.

Head of PT Swire Investment Indonesia, Ainsley Mann, mengungkapkan bahwa keputusan membeli hunian mewah kini cenderung bersifat emosional dan berorientasi jangka panjang. “Sebuah proyek yang telah sepenuhnya siap dihuni di kawasan seperti Dharmawangsa memiliki posisi yang sangat kuat, baik dari sisi hunian maupun sebagai aset jangka panjang. Pembeli melihat ini sebagai warisan tengaran yang sulit direplikasi oleh pengembang lain,” tutur Ainsley.

Sumber: http://www.kompas.com/properti/read/2026/04/22/183000321/bukan-investor-90-persen-apartemen-mewah-di-dharmawangsa-dibeli-end

Advertisement