Properti

Harga Rumah Terkontraksi, Momentum Beli Sebelum Naik Lagi?

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Sektor properti nasional menunjukkan dinamika yang kontras di awal kuartal kedua 2026. Data terbaru dari Rumah123 mencatat adanya kontraksi harga properti sebesar 0,4 persen pada April 2026, berbanding terbalik dengan lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 4,76 persen secara tahunan.

Kesenjangan yang signifikan ini, mencapai 516 basis poin, menciptakan kondisi di mana nilai aset hunian berada di bawah harga pasar. Fenomena ini justru menjadi celah yang mulai dilirik oleh segmen investor baru, terutama para perempuan profesional.

Defisit Suplai Picu Potensi Kenaikan Harga

Penurunan harga properti saat ini dipandang sebagai fase kompetitif dalam siksum pasar. Secara historis, periode harga rendah kerap menjadi sinyal awal sebelum terjadinya penyesuaian harga ke arah atas. Hal ini didorong oleh berbagai faktor fundamental yang menekan sisi suplai.

Biaya konstruksi tercatat mengalami kenaikan signifikan sebesar 19,97 persen, ditambah dengan peningkatan harga lahan dan beban operasional pengembang. Indikator-indikator fundamental ini menunjukkan struktur pasar yang kontradiktif dengan harga yang terpampang.

Volume suplai rumah sekunder nasional dilaporkan merosot 7,8 persen secara tahunan. Defisit ketersediaan unit ini, apabila bertemu dengan pemulihan daya beli masyarakat, diprediksi akan menjadi katalis utama lonjakan harga di masa mendatang.

Wilayah Tangerang masih menjadi primadona pencarian properti dengan pangsa sebesar 14,8 persen, mengungguli Jakarta Selatan (12,4 persen) dan Jakarta Barat (9,3 persen). Unit dengan harga di atas Rp 3 miliar, khususnya di kawasan mandiri seperti BSD City, menunjukkan stabilitas daya tahan yang paling kuat.

Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang stabil di level 4,75 persen, biaya pemeliharaan aset tetap kompetitif bagi investor untuk melakukan akumulasi pada titik valuasi rendah. Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menilai kuartal kedua 2026 sebagai momentum tepat untuk penyeimbangan portofolio.

Dukungan dari kebijakan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang masih berlaku juga memberikan ruang tambahan bagi investor untuk memasuki pasar. Investasi properti saat ini bertumpu pada kecepatan mengeksploitasi selisih antara nilai riil dan harga pasar sebelum terjadi kenaikan harga kembali.

“Akumulasi aset pada titik terendah menjadi strategi rasional bagi mereka yang mampu membaca data di balik angka-angka kontraksi harga,” ujar Marisa, dikutip Kompas.com, Rabu (23/4/2026).

Advertisement

Pergeseran Profil Investor, Perempuan Profesional Dominan

Selain dinamika harga, pasar properti juga mencerminkan pergeseran profil investor yang semakin inklusif. Perempuan profesional kini tampil sebagai pilar utama pertumbuhan, dengan pendekatan investasi yang semakin berbasis data.

Data menunjukkan lonjakan jumlah investor perempuan hingga 5,8 juta individu per Februari 2025. Total aset mereka di pasar modal mencapai Rp 502,29 triliun, meningkat 148 persen sejak 2021. Dalam aktivitas pencarian properti daring, perempuan memimpin dengan proporsi 52 persen.

Indeks literasi keuangan kelompok perempuan tercatat mencapai 66,75 persen pada 2024, melampaui kelompok laki-laki. Dominasi ini juga terlihat pada data perbankan, di mana 35,5 persen akad kredit rumah dalam Program 3 Rumah dilakukan oleh perempuan.

Marisa Jaya menekankan adanya perubahan cara pandang investor perempuan yang kini lebih analitis terhadap potensi keuntungan jangka panjang. Mereka tidak hanya mempertimbangkan estetika bangunan, tetapi juga menganalisis skor likuiditas area dan potensi imbal hasil sewa.

“Perempuan profesional saat ini cenderung menggunakan pendekatan data-driven. Mereka tidak lagi hanya melihat estetika bangunan, tetapi menganalisis skor likuiditas area dan potensi imbal hasil sewa,” ungkap Marisa.

Mayoritas investor perempuan, sebanyak 99,8 persen, memilih rumah tapak sebagai instrumen investasi utama. Segmen harga yang paling diminati berada pada rentang Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar.

Sumber: http://www.kompas.com/properti/read/2026/04/22/193000721/harga-rumah-terkontraksi-momentum-beli-sebelum-naik-lagi-

Advertisement