Abdul Azis, seorang guru honorer di Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi kenyataan pahit: gaji Rp 2 juta per bulan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di tengah mahalnya biaya di ibu kota. Selama sembilan tahun mengabdikan diri di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1, Kamal Muara, perjuangannya untuk menyambung hidup kian berat.
“Kalau untuk guru honorer ya memang kalau dibilang miris ya miris, karena memang untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja mungkin barangkali kurang. Minim bangetlah untuk pemasukan gitu,” ujar Azis saat ditemui Kompas.com di sekolahnya, Rabu (22/4/2026).
Perjuangan Gaji yang Belum Layak
Pria lulusan Sarjana Pendidikan Agama Islam ini menceritakan evolusi pendapatannya sejak pertama kali mengajar pada tahun 2017. Kala itu, ia hanya menerima upah Rp 600.000 per bulan. Nominal tersebut perlahan merangkak naik hingga mencapai Rp 2 juta saat ini.
Namun, angka tersebut masih jauh dari kata cukup, terutama setelah dikaruniai anak kedua yang kini berusia tujuh bulan. Penghasilannya bahkan belum mencapai setengah dari Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta yang berkisar Rp 5,7 juta.
“Mengingat kebutuhan di Jakarta ya, itu kurang, sangat-sangat kurang. Jangankan untuk kebutuhan yang sifatnya tambahan, yang sifatnya untuk kebutuhan sehari-hari saja kurang. Seperti makanan pokok ya seperti beras, minyak sayur. Apalagi sekarang ditambah dikaruniai seorang anak yang baru usia 7 bulan. Susunya, belum pampers-nya, dan lain sebagainya,” ungkap Azis.
Kondisi ekonomi yang semakin terjepit diperparah dengan hilangnya sepeda motor miliknya pada November 2025. Tanpa kendaraan, Azis terpaksa menempuh jarak enam kilometer dari rumahnya di Tegal Alur, Jakarta Barat, menuju sekolah dengan sepeda lipat. Perjalanan tersebut harus dilalui di tengah lalu lintas padat truk kontainer, yang menimbulkan risiko keselamatan.
Siasat Mengajar Ngaji Keliling Demi Kehidupan
Untuk menutupi kekurangan finansial, Azis tak bisa hanya mengandalkan gaji guru honorer. Setelah jam mengajar usai pukul 13.30 WIB, ia beralih profesi menjadi pelatih seni hadroh dan guru ngaji keliling di berbagai lokasi.
Pekerjaan sampingan ini memberinya pemasukan yang tidak menentu. “Untuk menutupi kekurangan-kekurangan, kadang saya ikut kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Seperti melatih Hadroh, itu ada yang dikasih Rp 50.000 sekali pertemuan, kadang juga bisa lebih. Ya kalau dihitung, mungkin barangkali lebih besar pengeluaran daripada pemasukan kali ya,” tuturnya.
Meski harus bekerja hingga malam, bahkan di akhir pekan, kebutuhan keluarganya kerap kali masih belum terpenuhi sepenuhnya.
Harapan untuk Kesejahteraan Guru Honorer
Sebagai guru yang mengampu berbagai mata pelajaran, mulai dari Akidah Akhlak, Fikih, Tahfidz, hingga Seni Budaya, Azis merasa beban kerja dan tanggung jawab moralnya belum sepadan dengan kesejahteraan yang layak.
Ia menyampaikan harapan kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto dan seluruh pemangku kebijakan agar memberikan perhatian lebih terhadap nasib guru honorer di Indonesia.
“Harapan kami sebagai guru pada pemerintah, khususnya untuk Bapak Presiden Prabowo dan kementerian terkait, harapan kami agar semua guru yang ada di negara kita ini tolong untuk disejahterakan, diprioritaskan,” tegas Azis.
Azis berharap pemerintah dapat melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil para guru honorer yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. “Bapak sudah lihat nasib para guru honorer yang ada di Indonesia kekurangan ekonomi, bahkan mungkin barangkali untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang. Kami mohon pemerintah bisa melihat nasib guru yang ada di Indonesia ini,” tutupnya.






