Properti

Irigasi 8 Kabupaten di Bali Direhabilitasi, Indeks Panen Meroket 200 Persen

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Jaringan irigasi di delapan kabupaten di Provinsi Bali kini tengah dalam proses pembangunan dan rehabilitasi. Langkah ini diambil Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai upaya strategis untuk mendongkrak produksi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Program revitalisasi irigasi ini diinisiasi berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 mengenai percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.

Secara spesifik, penanganan infrastruktur air ini mencakup wilayah Jembrana, Buleleng, Karangasem, Bangli, Badung, Gianyar, Klungkung, dan Tabanan.

Tahap awal pelaksanaan program telah dimulai dengan rehabilitasi dan peningkatan di 58 daerah irigasi. Total panjang jaringan yang ditangani mencapai 69,27 kilometer, melayani lahan pertanian seluas 3.088 hektar. Selain itu, Paket 2 melibatkan penanganan di 10 daerah irigasi dengan panjang 10 kilometer. Tahap lanjutan juga akan menyasar rehabilitasi jaringan dan saluran tersier di 42 daerah irigasi sepanjang 28,52 kilometer.

Penguatan Infrastruktur Kunci Ketahanan Pangan

Menteri PU, Dody Hanggodo, menekankan krusialnya penguatan infrastruktur irigasi dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

“Seluruh capaian ini merupakan wujud komitmen Kementerian PU dalam memastikan infrastruktur mendukung ketahanan pangan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Dody Hanggodo, seperti dikutip dari rilis resmi kementerian pada Selasa (21/4/2026).

Indeks Pertanaman Meroket

Dampak positif dari program ini mulai terlihat nyata di lapangan. Di Kabupaten Jembrana, perbaikan jaringan irigasi telah berhasil mendongkrak indeks pertanaman dari 150 persen menjadi 200 persen.

Advertisement

Fenomena serupa juga terjadi di Kabupaten Buleleng. Melalui perbaikan jaringan irigasi dan pembangunan jaringan tersier, frekuensi tanam meningkat hingga dua kali lipat, dengan indeks pertanaman melonjak dari 100 menjadi 200.

Pelaksanaan program di Bali ini di bawah koordinasi Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. Upaya penguatan jaringan irigasi tidak hanya berhenti di Bali, tetapi juga terus digalakkan di wilayah lain guna memperkokoh peran Pulau Dewata sebagai salah satu penopang produksi pangan nasional.

Penguatan jaringan irigasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian ketersediaan air bagi para petani, bahkan di tengah musim kemarau. Hal ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani.

Lebih lanjut, pengembangan infrastruktur ini dipastikan tetap selaras dengan sistem Subak, kearifan lokal masyarakat Bali dalam pengelolaan air.

Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk terus mendorong peningkatan kualitas infrastruktur irigasi sebagai bagian integral dari upaya penguatan ketahanan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: http://www.kompas.com/properti/read/2026/04/21/180000921/irigasi-8-kabupaten-di-bali-direhabilitasi-indeks-panen-meroket-200

Advertisement