Regional

Kartini di Balik Peluit, Kisah Hariyati di Dunia Sepak Bola

Advertisement

Semangat Raden Ajeng Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April terus bergema, bahkan merambah ke dunia sepak bola yang selama ini didominasi oleh kaum pria. Di balik gemuruh dan tensi pertandingan, sosok-sosok seperti Hariyati, seorang match commissioner asal Kediri, membuktikan bahwa sepak bola bukan sekadar profesi, melainkan bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Wajah Hariyati sudah tidak asing lagi dalam berbagai kegiatan sepak bola di Jawa Timur. Ia menjadi bagian integral dari dinamika pertandingan, meski tak selalu berada di sorotan utama.

Jejak Hariyati di Lapangan Hijau

Perjalanan Hariyati di dunia sepak bola bukanlah sebuah kebetulan. Kecintaannya pada olahraga ini tumbuh sejak kecil, bermula dari bermain bola bersama anak-anak laki-laki di lapangan. Pengalaman itulah yang kemudian membawanya melangkah lebih jauh, memasuki dunia yang identik dengan maskulinitas.

Ia mengenang masa awal kariernya sebagai seorang pemain. “Nyemplung di dunia bola sih sebelumnya dari kecil sudah suka main bola sampai kuliah. Waktu main bolanya lebih sering sama anak-anak laki-laki,” kata perempuan yang akrab disapa Tian itu kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Selepas kuliah, kecintaannya pada sepak bola semakin menguat. “Setelah lulus kuliah itu bener-bener terjun di sepak bola karena memang sempat menjadi pengurus tapi lebih aktifnya jadi pemain dulu,” imbuhnya.

Meskipun tidak melanjutkan karier sebagai pemain, Hariyati terus mencari jalannya di dunia sepak bola. Ia sempat mencoba peruntungannya di jalur perwasitan, namun menyadari bahwa tuntutan fisik menjadi tantangan tersendiri. Pilihan untuk menjadi match commissioner pada tahun 2019 menjadi titik temu antara passion dan peran yang dapat dijalani secara maksimal.

“Tapi tidak mumpunin ya secara kemampuan terutama di fisiknya karena memang cukup berat. Lalu saya pindah ke matchcom ini dengan harapan saya tetap berada di dunia sepak bola,” ujar mantan pemain Canda Kirana Kabupaten Kediri, klub sepak bola putri terakhirnya. “Karena kan dunia ini sudah mendarah daging, kegemaran dan hidup sudah di bola. Sampai saat ini berada di dunia bola,” sambungnya.

Adaptasi di Lingkungan Maskulin

Memasuki lingkungan yang didominasi laki-laki tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi Hariyati. Ia harus belajar memahami dinamika komunikasi, mengelola emosi, serta beradaptasi dengan berbagai karakter.

“Tentu awal sempat kaget juga karena secara psikis perempuan dan laki-laki berbeda, terutama laki-laki kalau bicara nada tinggi dalam artian wataknya kan suaranya keras. Sedangkan saya kan sedikit di bawah mereka gitu,” tutur match commissioner level nasional itu.

Namun, seiring waktu, ketahanan mentalnya pun terbentuk. Ia belajar membaca situasi, menempatkan diri, dan mengelola emosi dalam berbagai kondisi. “Perempuan itukan ada masa siklus bulanan terus berpengaruh pada hormon, kadang mood yang tiba-tiba berubah jadi badmood,” kata Hariyati. “Ya menempatkan diri di mana kita bisa ngatur mental dan bagaimana caranya mengatur dalam berbicara sama siapa dan apa pembicaraannya serius atau bercanda,” imbuhnya.

Advertisement

Kemampuan memahami situasi menjadi kunci utama baginya. Dunia sepak bola, menurut Hariyati, bukan hanya soal aturan di atas lapangan, tetapi juga tentang bagaimana berinteraksi dengan manusia di dalamnya.

“Jadi mental kita secara perlahan mulai tertata dengan kebiasaan bersama atau berkumpul dengan lingkungan yang banyak laki-lakinya. Pasti lah kalau di dunia laki-laki ini sedikit keras becanda ya mungkin melebihi ekspektasi kita,” ujar perempuan yang saat ini tinggal di Kota Malang. Pengalaman tersebut membentuk ketangguhan yang tidak hanya profesional, tetapi juga personal. “Tapi di mana kita bisa menempatkan diri jadi terbiasa dengan situasi-situasi yang mungkin bisa membuat badmood atau tersinggung,” sambungnya.

Warisan Kartini di Sepak Bola

Kini, di momen Hari Kartini, kehadiran para perempuan di dunia sepak bola menjadi bukti nyata perjuangan panjang yang membuka ruang lebih luas bagi kaum hawa. “Kartini menurutku sih benar-benar sosok memperjuangkan emansipasi perempuan ya. Tentu yang saat ini kita merasakan dampaknya terutama di olahraga, di mana perempuan bisa berkecimpung di sepak bola,” kata Hariyati.

“Mulai dari sisi pemain, ofisial pengawas pertandingan atau di balik layar lainnya ada sosok perempuan. Kita mendapatkan banyak dampak positifnya dari perjuangan ibu Kartini ini,” imbuhnya.

Semangat emansipasi terus hidup dalam setiap langkah perempuan yang memilih bertahan dan berkembang di dunia olahraga. Di tengah pesatnya perkembangan sepak bola Indonesia, Hariyati menyimpan harapan besar agar perempuan tidak hanya hadir, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi lebih luas.

“Mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional, baik dalam pemain pelatih maupun perangkat pertandingan seperti wasit dan match commissioner,” pungkas lulusan S1 Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang itu.

Sumber: http://surabaya.kompas.com/read/2026/04/21/200420778/kartini-di-balik-peluit-kisah-hariyati-di-dunia-sepak-bola

Advertisement