Regional

Kepala BGN: Kami Jadi Pasukan Terbesar Republik, Kalahkan TNI-Polri, Libatkan Jutaan Relawan MBG

Advertisement

PADANG – Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim telah menjelma menjadi lembaga dengan struktur kekuatan terbesar di Indonesia, bahkan melampaui gabungan personel TNI dan Polri berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa lembaganya telah membangun basis kekuatan hingga 1,1 juta orang relawan di seluruh penjuru Tanah Air dalam waktu singkat.

Kekuatan masif ini digerakkan oleh unit kerja bernama Satuan Pelayanan Makan Bergizi (SPPG) yang tersebar di setiap daerah. “Sekarang kami menjadi pasukan terbesar republik, mengalahkan pasukan TNI dan Polri,” ujar Dadan saat menghadiri pelantikan pengurus Gapembi Sumbar di Kota Padang, Rabu (22/4/2026).

Transformasi dari Ketiadaan Menjadi Lembaga Raksasa

Dadan mengenang awal mula BGN berdiri pada 15 Agustus 2024. Ia mengaku pelantikannya pada 19 Agustus berlangsung tanpa protokoler, bahkan tanpa dokumentasi, karena dilakukan atas permintaan Prabowo Subianto kepada Presiden Joko Widodo saat itu. Namun, dalam kurun waktu satu tahun empat bulan, BGN mengalami transformasi pesat.

Dari yang awalnya tidak memiliki kantor, kini BGN diperkuat oleh 600 pegawai pusat dan 27.000 kepala SPPG dari Sabang hingga Merauke. “Ekosistem ini juga melibatkan 27.000 ahli gizi, 27.000 petugas angkutan, serta jutaan relawan,” jelasnya.

SPPG: Mesin Ekonomi Lokal dengan Putaran Triliunan Rupiah

Kehadiran SPPG tidak hanya berfungsi sebagai penyalur makanan bergizi, tetapi juga menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi baru di daerah. Di Sumatera Barat saja, tercatat 402 unit SPPG yang telah beroperasi.

Di Kota Padang, dengan 72 SPPG yang aktif, perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 70 miliar setiap bulan. Secara akumulatif, wilayah Sumatera Barat menyerap anggaran hingga Rp 400 miliar per bulan untuk program ini. Skema anggarannya dirancang ketat untuk memberdayakan warga lokal.

“Sebanyak 70 persen dana digunakan untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal,” terang Dadan. Sisanya dialokasikan untuk biaya operasional, termasuk gaji relawan yang berkisar antara Rp 2,4 juta hingga Rp 3,5 juta per bulan, serta 10 persen sebagai insentif bagi pengelola.

Advertisement

Efek Domino Program MBG di Sektor Pertanian dan Peternakan

Dampak nyata program MBG mulai terlihat pada stabilitas harga komoditas pertanian dan peternakan. Dadan mencontohkan fenomena di Jember, di mana petani sempat menebang pohon jeruk karena harga anjlok menjadi Rp 4.000 per kilogram. Berkat adanya permintaan dari MBG, harga kini stabil di angka Rp 10.000 per kilogram.

Kebutuhan logistik satu unit SPPG sangat masif. “Setiap bulan, satu SPPG membutuhkan sedikitnya lima ton beras,” ungkapnya. Untuk buah-buahan, sekali makan saja dibutuhkan 3.000 buah pisang, setara dengan hasil panen 15 pohon. Hal serupa terjadi pada kebutuhan protein seperti lele, telur, dan susu yang mendorong produktivitas peternak lokal.

Generasi Z dan Pemberdayaan Pesantren sebagai Pilar Program

Program MBG ini mendapat dukungan penuh dari kalangan muda, dengan tingkat partisipasi Generasi Z mencapai 80 persen. BGN memposisikan diri sebagai lembaga dinamis yang diisi oleh tenaga muda yang siap bekerja dengan ritme cepat.

Selain itu, BGN juga menjalin kemitraan dengan pondok pesantren dalam pengelolaan SPPG. Langkah ini diharapkan menjadi sarana pemberdayaan ekonomi pesantren yang signifikan. Dengan total anggaran Rp 268 triliun, Rp 60 triliun di antaranya telah disalurkan melalui virtual account ke SPPG di seluruh daerah.

“Program MBG kini bukan lagi sekadar intervensi gizi, melainkan strategi nasional untuk menekan angka kemiskinan dan memperkecil rasio gini di Indonesia,” pungkas Dadan.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2026/04/22/140636078/kepala-bgn-kami-jadi-pasukan-terbesar-republik-kalahkan-tni-polri-libatkan

Advertisement