Regional

Nurmala Saidah, Satu-satunya Penembang Perempuan Mocoan Lontar Yusuf

Advertisement

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Tradisi Mocoan Lontar Yusuf, sebuah ritual pembacaan naskah kuno berisi Kisah Nabi Yusuf dalam aksara pegon yang lazim dibawakan oleh laki-laki di kalangan masyarakat Suku Osing, Banyuwangi, Jawa Timur, kini memiliki satu sosok penembang perempuan. Nurmala Saidah, 33 tahun, menjadi satu-satunya perempuan yang aktif melestarikan seni yang terikat dalam 12 pupuh, 593 bait, dan 4.366 larik ini.

Perjalanan Nurmala, yang akrab disapa Mala, menuju dunia mocoan lontar tidak dimulai dari kebiasaan keluarga. Tumbuh di Kalibaru dan Purwoharjo, ia justru tidak akrab dengan tradisi tersebut, meskipun keluarganya memiliki akar seni dari Temuguruh, salah satu wilayah budaya Osing.

Mala baru bersentuhan dengan mocoan lontar pada tahun 2018, saat diajak oleh seorang dosen yang sedang melakukan penelitian. Latar belakang pendidikan bahasa dan seni, ditambah ketertarikan pada olah vokal, mendorongnya untuk mencoba. “Awalnya yang membuat tertarik, kesannya budaya kuno. Saya memang suka seni vokal dan olah suara, tapi mocoan tidak diiringi musik, menurut saya unik,” ujar Mala kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa mocoan menuntut ketepatan nada dan penguasaan suara yang utuh, di mana kesalahan sekecil apa pun tidak dapat disembunyikan. Kesulitan inilah yang justru menjadi pintu masuk baginya untuk bertahan, belajar, dan menemukan tempat di tradisi yang minim dilirik anak muda, terlebih perempuan.

Lebih dari Sekadar Seni Suara

Mocoan lontar Yusuf bukan sekadar seni suara, melainkan hidup dalam ruang-ruang ritual. Tradisi ini biasanya dibacakan semalam suntuk, mulai dari selepas Isya hingga menjelang subuh, dalam acara pernikahan, khitanan, hingga selamatan sebagai bentuk pemenuhan nazar. Meskipun kini bentuknya mulai berkembang menjadi pertunjukan singkat untuk pembukaan acara, nilai yang dibawa tetap sama.

Naskahnya mengisahkan perjalanan Nabi Yusuf, mulai dari dibuang ke sumur, menghadapi fitnah, hingga akhirnya mencapai kemuliaan. Namun, bagi Nurmala, cerita ini bukan sekadar kisah lama, melainkan cermin kehidupan yang relevan hingga kini. Salah satu bait yang sering ia tembangkan adalah “Lamun ana gusti kaluputaningsun Pangeran angapuraha Kang wêruh usiking dasih,” yang bermakna permohonan ampun atas dosa dan kesalahan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati.

Bagi Nurmala, bait tersebut menjadi pengingat bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan selalu ada ruang untuk kembali. Ia melihat tantangan terbesar bukan hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga menjelaskan maknanya. “Sering hanya disebut tentang kebaikan, tapi tidak dijelaskan bagaimana maknanya,” katanya.

Kegelisahan ini mendorongnya untuk belajar lebih dalam. Merujuk pada riset Tembang in Two Traditions karya Bernard Arps, ia mulai membagikan pemahaman tentang isi, teknik, dan nilai mocoan melalui kelas, seminar, sekolah formal dan nonformal, hingga media sosial. Upayanya ini perlahan membuka ruang baru bagi mocoan lontar, bahkan membawanya ke panggung nasional melalui berbagai kerja sama dengan kementerian dan organisasi non-pemerintah.

Advertisement

Mendirikan “Mocoan Wadon”

Pada tahun 2025, Nurmala mendirikan komunitas “Mocoan Wadon”. Komunitas ini dibentuk untuk menegaskan bahwa penembang tidak harus laki-laki. “Selama ini hampir semuanya bapak-bapak usia 40 ke atas. Perempuan hampir tidak ada,” ujarnya.

Namun, jalan yang ditempuh tidaklah mulus. Mala mengaku kerap merasa berjalan sendiri. Pelatihan yang digelar berulang kali seringkali berhenti tanpa keberlanjutan. “Mocoan itu panggilan hati, tidak bisa dipaksa,” katanya.

Di ruang yang didominasi laki-laki, Mala juga menghadapi realitas lain, mulai dari candaan yang kurang nyaman hingga situasi yang mengharuskannya menyesuaikan diri. Kendati demikian, ia memilih untuk tetap bertahan.

Perjuangan Nurmala hari ini, seperti Kartini di zamannya, bukan lagi soal membuka akses, melainkan bertahan dan memberi makna di ruang yang belum sepenuhnya ramah bagi perempuan. Ia tidak menuntut semua anak muda untuk mendalami mocoan, tetapi cukup dengan mengenalinya sebagai awal. “Minimal tahu apa itu mocoan lontar, bagaimana ditembangkan, dan kapan dilakukan,” ujarnya.

Ia percaya bahwa budaya tidak akan bertahan jika hanya hidup pada satu orang. Di titik itulah, Nurmala masih berdiri, menembang sendirian, sambil berharap suatu hari nanti, suaranya tidak lagi sendiri.

Sumber: http://surabaya.kompas.com/read/2026/04/21/203957378/nurmala-saidah-satu-satunya-penembang-perempuan-mocoan-lontar-yusuf

Advertisement