Global

Pakistan Masih Tunggu AS-Iran Datang, Warga Mulai Kesal

Advertisement

ISLAMABAD – Ibu kota Pakistan, Islamabad, masih dalam kewaspadaan tinggi menanti kedatangan delegasi Amerika Serikat dan Iran untuk perundingan yang ditunda mendadak. Pembatasan aktivitas yang diterapkan sejak rencana pertemuan diumumkan berlanjut, menimbulkan dampak signifikan pada kehidupan sehari-hari warga dan perekonomian lokal.

Penundaan ini membuat sejumlah jalan utama di zona merah, yang menjadi lokasi utama negosiasi, tetap ditutup. Aktivitas pemerintahan banyak dialihkan ke sistem kerja dari rumah, sementara sekolah kembali menerapkan pembelajaran daring. Ketidakpastian ini mulai mengikis kesabaran warga yang menghadapi kendala ekonomi dan sosial berkepanjangan.

Warga Mulai Lelah dengan Pembatasan

Sejak awal, area yang ditetapkan sebagai “zona merah” di Islamabad mengalami penutupan ketat oleh aparat keamanan. Pembatasan ini menyulitkan warga dalam menjalankan aktivitas normal, mulai dari bekerja hingga mengakses layanan publik esensial.

“Kami terpaksa harus tinggal di sini, zona merah ditutup. Anak-anak tidak bisa pergi ke sekolah, dan toko-toko kadang tutup,” ujar Zainab Ali Uthmankhail, seorang pekerja kantoran, kepada AFP. Ia menambahkan bahwa situasi ini sangat mengganggu dan membuang waktu, meskipun ia tetap mendukung upaya perdamaian.

“Secara pribadi saya merasa ini sangat menjengkelkan. Waktu saya terbuang. Tarif transportasi meningkat. Tapi saya senang karena kami melakukan sesuatu yang positif,” tambahnya.

Perundingan Ditunda Mendadak, Ketidakpastian Berlanjut

Rencana kedatangan Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu pagi tiba-tiba dibatalkan oleh Gedung Putih. Delegasi Iran pun turut menunda keputusan terkait kehadiran mereka. Penundaan ini memperpanjang ketidakpastian di Islamabad, yang sebelumnya telah menjadi tuan rumah putaran pertama negosiasi tanpa hasil.

Dampak Ekonomi Kian Terasa

Pembatasan ketat tidak hanya memengaruhi mobilitas, tetapi juga menghantam ekonomi lokal, terutama sektor usaha kecil dan pekerja harian.

Advertisement

“Dampak lockdown adalah kami tidak melihat pelanggan sama sekali di pasar. Pemerintah tidak tahu apa dampak satu hari lockdown terhadap rumah tangga kami,” kata Muhammad Ahsan (35), pemilik kios perhiasan kecil. Ia menggambarkan kondisi yang semakin sulit, “Kompor kami tidak menyala, kami tidak menemukan makanan (di pasar).”

Tidak hanya usaha mikro, perusahaan besar pun merasakan dampaknya. Salah satu kilang minyak utama terpaksa menghentikan sementara produksinya akibat gangguan distribusi.

Meskipun banyak yang terdampak, sebagian warga tetap menunjukkan kebanggaan atas peran Pakistan dalam upaya meredakan konflik global. Namun, mereka juga bersiap menghadapi gangguan lanjutan jika perundingan kembali dijadwalkan.

“Kami memberikan pengorbanan kecil untuk mengurangi pengorbanan yang lebih besar,” ujar dokter muda Syed Umar Hasnain Shah. “Jadi kami akan terus berkorban.”

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2026/04/22/203945970/pakistan-masih-tunggu-as-iran-datang-warga-mulai-kesal

Advertisement