PANGKALPINANG, KOMPAS.com – Di tengah hiruk pikuk pengunjung Restoran Lempah Kuning Muara, Kota Pangkalpinang, sosok Tuti (48) menjadi penjaga setia resep pusaka. Lebih dari sekadar pekerjaan, mengolah lempah kuning bagi Tuti adalah amanah warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati.
“Kami di kampung sudah kenal lempah kuning sejak kecil. Umur 10 tahun sudah bisa masak sendiri, bahan bakunya itu dari laut dekat dari rumah,” ungkap Tuti saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Tuti, yang berasal dari daerah Penutuk, Lepar Pongok, Bangka Selatan, tumbuh di lingkungan kepulauan dengan kekayaan hasil laut melimpah. Daerah inilah yang diyakini menjadi cikal bakal lahirnya masakan lempah kuning, yang kini populer di Bangka Belitung dan bahkan diakui sebagai warisan budaya tak benda.
Keunikan lempah kuning terletak pada kemampuannya diterima lidah lintas generasi. Tradisi melestarikan masakan ini dilakukan secara kolektif, dari rumah tangga hingga menjadi menu komersial yang digemari.
Penjaga Resep Pusaka di Pusat Kuliner Bangka
Kini, Tuti menjadi salah satu penjaga warisan leluhur tersebut. Selama dua tahun terakhir, ia bersama sang suami memilih hijrah ke Pangkalpinang untuk mengabdikan diri sebagai juru masak di Restoran Lempah Kuning Muara. Restoran ini telah menjadi primadona bagi wisatawan, termasuk sejumlah figur publik.
Musisi ibu kota tak jarang menyempatkan diri singgah untuk menikmati gurihnya lempah kuning, santapan khas berbahan dasar kunyit dan terasi. Dari dapur yang berjarak belasan meter dari dermaga nelayan, Tuti bersama dua rekannya mengolah berbagai varian lempah kuning.
“Ciri khas Lempah Kuning adalah bahan baku ikan segar dari laut yang baru ditangkap. Bisa ikan atau cumi dengan waktu pengolahan 15 sampai 20 menit tergantung jenis dan ukuran lauknya,” jelas Tuti.
Beberapa artis ibu kota yang pernah mencicipi hidangan di sini antara lain grup band Slank, Tipe X, Kangen Band, dan Padi.
Tak hanya wisatawan domestik, Lempah Kuning Muara juga kerap dikunjungi tamu internasional, seperti peserta program pertukaran pelajar. Tuti dan timnya selalu menyajikan masakan dengan sepenuh hati.
Bagi Tuti, profesinya bukan sekadar mencari nafkah. Menjadi juru masak lempah kuning memberinya kebanggaan tersendiri karena turut serta dalam menjaga resep pusaka warisan nenek moyang.
Harapan untuk Pendidikan Anak
Saat ini, Tuti dan suaminya bekerja hampir penuh waktu di Restoran Lempah Kuning Muara. Restoran yang terkenal ini selalu ramai pengunjung dari siang hingga malam, bahkan seringkali menyarankan pengunjung untuk melakukan reservasi demi mendapatkan tempat.
Selain cita rasa otentik, lokasi restoran di pinggir pelabuhan dengan pemandangan lalu lalang kapal menambah daya tarik suasana.
Dari penghasilannya sebagai juru masak, Tuti memiliki harapan besar untuk pendidikan anak tunggalnya. “Sekarang anak sudah kuliah semester empat, mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu. Apa pun pekerjaannya yang pasti bisa masak lempah kuning,” tutur Tuti sembari tersenyum.
Tips Memasak Lempah Kuning Berkualitas
Untuk menghasilkan lempah kuning yang berkualitas, Tuti menekankan pentingnya bahan baku yang segar. Selain itu, api kompor harus dalam kondisi sedang agar lauk utama matang merata.
“Kalau api terlalu besar, lauk dan bumbunya jadi gosong,” ungkapnya.
Lempah kuning yang disajikan Tuti mengandalkan komoditas lokal, seperti kunyit yang memberikan warna khas dan terasi atau belacan yang menciptakan aroma serta rasa gurih yang menyatu.
Lebih dari sekadar pengganjal lapar, lempah kuning juga dipercaya dapat menguatkan stamina berkat aneka rempah di dalamnya.
“Asam, manis dan pedas menyatu dalam setiap porsi. Protein utamanya dari ikan laut segar tadi,” tutup Tuti.






