SURABAYA, Kompas.com – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mendeteksi 79 peserta yang masuk kategori anomali atau mencurigakan pada hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Temuan ini merupakan hasil pemantauan Unair yang didukung oleh data historis peserta dari tahun-tahun sebelumnya.
Koordinator Pelaksana UTBK Unair 2026, I Made Narsa, menjelaskan bahwa data historis tersebut memungkinkan Unair untuk dengan mudah mengidentifikasi potensi kecurangan. “Daftar nama yang dicurigai di Unair 79 peserta (anomali data) dialokasikan di hari ini semua. Beberapa tidak datang tetapi mayoritas hadir. Hasil pantauan di lapangan aman,” ujar Made saat ditemui Kompas.com, Selasa (21/4/2026).
Pada hari dan sesi pertama UTBK, sebanyak 843 peserta mengikuti ujian di tiga kampus Unair (A, B, dan C), sementara 37 lainnya dinyatakan absen. Meskipun ada temuan peserta anomali, pelaksanaan ujian dilaporkan berjalan lancar.
Modus Joki dan Anomali Data
Made Narsa memaparkan bahwa modus yang kerap digunakan oleh para joki adalah dengan menggunakan identitas orang lain untuk mendaftar. Di tahun berikutnya, mereka kembali mendaftar dengan nama yang berbeda, namun tetap menggunakan foto diri mereka sendiri.
“Nah yang 79 ini anomali saja. Datanya kok aneh-aneh, jangan-jangan itu,” kata Made. Ia memberikan contoh, “Misalnya ada peserta domisili dari Indonesia Barat. Lalu dia memilih universitas di Jawa Tengah. Tetapi dia ikut tes di luar Jawa. Kan gini, tingkat keketatan kualitas pengawasan di masing-masing pusat UTBK kan beda-beda.”
Peserta dengan pola seperti itu, menurut Made, kemungkinan berpikir bahwa pengawasan di lokasi tes yang dipilihnya lebih longgar. “Bisa jadi dia berpikir di daerah pengawasannya lebih lengah, kan bisa begitu. Jadi dari pikiran normal, ini kok aneh ya, rumahnya di sini, milihnya di sini, kok tesnya di situ. Curiga kita, bisa jadi dia Kebetulan dia wisata ke sana kan bisa jadi. Mumpung di sana milih di sana kan bisa jadi begitu. Tapi dari segi data itu kan aneh,” jelasnya.
Peran Pusat dalam Antisipasi Kecurangan
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) juga telah merilis data terkait dugaan kecurangan dalam pelaksanaan UTBK di berbagai kampus, termasuk Unair. Salah satu contoh yang diungkap adalah dugaan adanya satu peserta yang memiliki wajah sama namun mendaftar UTBK dua tahun berturut-turut dengan nama yang berbeda.
“Tujuannya agar kami bisa melakukan antisipasi dan memberikan perhatian lebih dalam pengawasan. Salah satu contoh yang disampaikan pusat, UTBK 2025 pakai nama X kemudian UTBK 2026 pakai nama Y,” terang Made.
Upaya Pengetatan Pengawasan di Unair
Made mengklaim bahwa Unair memiliki rekam jejak yang minim kasus kecurangan dalam pelaksanaan UTBK. Ia menyoroti pentingnya sistem pengawasan yang ketat di kampusnya.
Setiap ruangan ujian diawasi menggunakan kamera CCTV yang terpusat pada satu ruangan pemantauan. Selain itu, setiap peserta wajib melewati pemeriksaan metal detector untuk memastikan tidak membawa alat bantu yang dapat memfasilitasi kecurangan, terutama telepon genggam atau smartphone.
“Panitia juga melakukan briefing kepada pengawas dan kami selektif dalam memilih pengawas. Pengawas yang memiliki rekam jejak kurang baik misalnya tidak serius dalam mengawasi akan dipertimbangkan untuk tidak dilibatkan,” pungkas Made.
Sebagai catatan, pada tahun 2022, Polrestabes Surabaya pernah mengungkap kasus sindikat joki UTBK-SBMPTN yang melibatkan delapan tersangka, di mana beberapa di antaranya diduga berasal dari oknum kampus ternama, termasuk keterlibatan salah satu oknum dari Unair.






