Konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran telah memicu tekanan krisis energi global yang diperkirakan akan berlanjut hingga April 2026. Penutupan Selat Hormuz memperparah gangguan pasokan energi dunia, dengan negara-negara Asia menjadi yang paling terdampak. Kondisi ini memaksa banyak negara mengambil langkah darurat, mulai dari penjatahan bahan bakar, peningkatan penggunaan batu bara, hingga kebijakan penghematan energi.
Namun, tidak semua negara berada dalam posisi yang sama. Sejumlah negara dinilai memiliki ketahanan lebih kuat dalam menghadapi guncangan energi global ini. Hal ini tercermin dalam laporan terbaru JPMorgan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global. Salah satu indikator utama yang digunakan adalah total insulation factor, yakni ukuran seberapa besar porsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global.
Afrika Selatan dan Indonesia Paling Tangguh
Afrika Selatan menempati posisi teratas dengan skor 79 persen. Capaian ini ditopang oleh dominasi penggunaan batu bara produksi dalam negeri yang mencapai sekitar 75 persen dari kebutuhan energinya.
Di posisi berikutnya, Indonesia juga masuk dalam kelompok negara yang relatif tangguh terhadap guncangan dan fluktuasi harga energi global. Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat kedua dengan skor sekitar 77 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara yang dianalisis.
Ketahanan energi Indonesia ini terutama didukung oleh ketersediaan sumber energi domestik, khususnya batu bara dan gas, serta kontribusi energi terbarukan. Sekitar 77 persen kebutuhan energi Indonesia dinilai “terlindungi”.
Komposisi Energi Indonesia
- Batu bara: 48 persen
- Gas: 22 persen
- Energi terbarukan: 7 persen
Selain itu, tingkat ketergantungan impor energi Indonesia relatif rendah. Impor minyak tercatat sekitar 16 persen, sementara untuk gas, Indonesia bahkan berstatus sebagai net eksportir dengan angka -8 persen. Kondisi ini membuat dampak krisis energi global terhadap Indonesia relatif lebih terbatas dibandingkan banyak negara lain.
Meski begitu, Indonesia tetap menghadapi sejumlah risiko. Konsumsi minyak yang masih tinggi dan sebagian dipenuhi melalui impor membuat perekonomian tetap sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Daftar Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026
Berikut adalah daftar negara yang dinilai paling kuat menghadapi krisis energi global pada 2026 berdasarkan laporan JPMorgan:
| Peringkat | Negara | Skor Ketahanan Energi (Persen) |
|---|---|---|
| 1 | Afrika Selatan | 79 |
| 2 | Indonesia | 77 |
| 3 | China | 76 |
| 4 | Amerika Serikat | 70 |
| 5 | Australia | 68 |
| 6 | Swedia | 66 |
| 7 | Pakistan | 65 |
| 8 | Rumania | 64 |
| 9 | Peru | 63 |
| 10 | Kolombia | 60 |
Secara keseluruhan, negara dengan sumber energi domestik yang kuat dan ketergantungan impor yang rendah cenderung lebih mampu bertahan menghadapi gejolak energi global saat ini.






