Lifestyle

Kisah Para Ayah Membesarkan Anak Perempuan Tangguh dan Tak Mudah Dimanipulasi

Advertisement

Peringatan Hari Kartini kerap diasosiasikan dengan perjuangan perempuan untuk meraih pendidikan dan cita-cita. Namun, di balik upaya tersebut, terdapat fondasi penting yang membentuk ketangguhan seorang anak perempuan, yakni kekuatan mental yang dibangun bersama figur ayah di rumah. Kemandirian sejati bagi perempuan bukan hanya soal kemampuan profesional, melainkan kemerdekaan emosional untuk tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Seorang ayah yang mampu memberikan kasih sayang dan apresiasi secara penuh akan membekali putri-putrinya dengan rasa aman. Hal ini membuat mereka tumbuh menjadi individu yang berani mengambil keputusan tanpa perlu mencari validasi dari lawan jenis.

“Sebenarnya kan pendidikan awal sebaiknya tuh lewat rumah dulu untuk fondasi dia agar di luarnya bisa lebih better,” ujar Rafli (39), ayah dari Zahira (10), kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).

Membangun Fondasi Mental dari Rumah

Kemandirian seorang perempuan modern tidak muncul begitu saja. Ia berawal dari rasa aman yang ditanamkan sang ayah sejak dini. Peran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai jangkar emosional bagi anak.

Terutama saat memasuki usia remaja yang rentan, kehadiran proaktif ayah sangat krusial untuk membangun komunikasi yang solid. Kedekatan emosional memungkinkan anak untuk bercerita tentang masalah yang dihadapi di luar rumah, sekaligus memberikan ruang bagi ayah untuk memberikan afirmasi positif. Hal ini penting agar anak tidak mudah terpengaruh oleh dinamika negatif di lingkungan pergaulannya.

“Saya selalu quality time jalan-jalan sama anak setiap weekend supaya anak lebih deket, jadi dia bebas mau cerita apa aja termasuk soal sekolah atau teman-temannya,” kata Rafli.

Kedekatan emosional ini diibaratkan sebagai “tangki bensin” bagi mental anak. Ketika tangki kasih sayang di rumah terisi penuh, anak akan memiliki ketahanan untuk menolak nilai-nilai negatif yang mencoba merendahkannya.

Menangkal Krisis Kepercayaan Diri dan Haus Pengakuan

Rio, ayah dari Michelle (20) dan Keke (12), menilai pujian yang konsisten dari ayah dapat membangun standar harga diri yang tinggi. Hal ini mencegah anak menjadi haus akan validasi dari luar.

“Kalau dibilang ‘Eh kamu cantik,’ anak malah kayak orang marah gitu. Padahal sih malah seneng gitu. Saya tetap puji supaya dia terbiasa dengernya, dan namanya juga ayah, masa kitanya juga gengsi muji anak sendiri,” ungkap Rio, Senin.

Anak yang terbiasa mendengar kata-kata positif dari ayahnya cenderung memiliki pertahanan mental yang stabil dan lebih rasional dalam menghadapi godaan.

“Kalau ada yang godain, ‘Ah, papi gua udah sering muji begitu, emang gue cantik. Omongan lu sama kayak papi gua’. Karena sering dipuji, anak-anak jadi tau mereka memang cantik. Jadi pas dipuji cowok, mereka enggak kegeeran, kesenengan, dan jadi haus validasi,” jelas Rio.

Jika validasi dari ayah minim, anak berisiko lebih mudah terpengaruh oleh rayuan manis. Memupuk kepercayaan diri sejak dini sangat bermanfaat bagi karakter jangka panjang.

“Makanya sejak dini harus dipupuk, sering dipuji walau emang mereka suka gengsi. Biar ke depannya enggak kayak seperti itu, kesenengan pas dipuji-puji cowok. Sering muji anak juga ada manfaatnya, biar mereka percaya diri sejak kecil,” tambah Rafli, yang sepakat dengan pandangan Rio.

Advertisement

Kematangan emosional ini perlu dibarengi dengan prinsip kemandirian dalam berelasi. Tujuannya agar putri memiliki posisi tawar yang kuat dan tidak mudah dimanipulasi.

Membekali Putri dengan Prinsip Kemandirian dalam Berelasi

Dalam mendidik kedua putrinya, Rio selalu menekankan pentingnya posisi tawar seorang perempuan. Anak perempuan harus dibiasakan memegang kendali atas diri mereka, termasuk dalam konteks pemberian hadiah dalam hubungan asmara.

“Lebih baik kita memberi daripada kita menerima. Saya sering nasehatin anak-anak, kalau cowok yang ngasih, mereka jadi harus ngikutin kemauan cowok,” tutur Rio.

Prinsip ini dianggap relevan untuk mematahkan kebiasaan anak muda yang kerap merasa takluk hanya karena sering dibelikan barang oleh lawan jenis. Dengan berada di posisi memberi atau mandiri, perempuan secara tidak langsung memegang otoritas atas pilihan hidupnya.

Kehadiran Penuh Ayah sebagai Kunci Kemerdekaan Emosional

Upaya pembentukan karakter dan pemberian validasi ini tidak akan optimal tanpa kehadiran fisik dan waktu berkualitas dari seorang ayah. Di tengah kesibukan kerja, meluangkan waktu bersama anak perempuan membutuhkan usaha ekstra, mulai dari mengantar jemput sekolah hingga agenda jalan-jalan.

Kendati demikian, sikap proaktif para ayah terkadang masih dipandang sebelah mata oleh lingkungan. Ada anggapan bahwa menemani anak perempuan berbelanja atau berjalan-jalan adalah wilayah pengasuhan ibu.

“Emang suka ada yang ngomong begitu, tapi saya enggak ambil pusing karena yang ngomong pada belum punya anak. Kalau saya sih cuek, emang niat dari awal punya anak perempuan maunya deket sama mereka,” ungkap Rafli.

“Untuk dapetin ini, kedekatan saat ini, harus quality time, walaupun susah karena saya sibuk kerja, tetap harus supaya anak terbuka sama kita. Terbukanya gimana? Ya harus dekat, dan buat dekat, kita harus luangkan waktu buat mereka,” sambung Rafli.

Para ayah yang menyadari dampak jangka panjangnya tidak akan terpengaruh oleh pandangan orang lain. Komunikasi intens saat berdua sangat efektif meruntuhkan sekat, membuat anak lebih leluasa mencurahkan isi hatinya terkait dinamika pergaulan.

Kesediaan ayah untuk hadir secara penuh, mendengarkan, dan memberikan perlindungan tanpa mengekang, adalah fondasi utuh kemerdekaan anak perempuan. Keterlibatan ini memastikan mereka melangkah keluar rumah dengan tegak sebagai individu yang tangguh.

Sumber: http://lifestyle.kompas.com/read/2026/04/22/190300620/kisah-para-ayah-membesarkan-anak-perempuan-tangguh-dan-tak-mudah

Advertisement