JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena perselingkuhan dalam pernikahan seringkali dikaitkan dengan berbagai faktor, namun sebuah analisis data terbaru menyoroti peran penting usia dalam menentukan kerentanan pria untuk melakukan perselingkuhan.
Temuan mengejutkan datang dari Institute for Family Studies (IFS) dan survei sosial di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa puncak risiko perselingkuhan pada pria justru terjadi di usia senja, bukan di usia paruh baya seperti yang umum dipersepsikan.
Usia Pria Paling Rentan Selingkuh Terungkap
Banyak anggapan mengaitkan usia 40 atau 50 tahun sebagai periode paling berisiko bagi pria untuk berselingkuh. Namun, data yang dipublikasikan oleh Institute for Family Studies (IFS) justru menunjukkan pola yang berbeda.
Menurut laporan yang dikutip oleh Best Life pada Rabu (22/4/2026), pria di usia 70 hingga 79 tahun mencatatkan tingkat perselingkuhan tertinggi. Sekitar 26 persen pria dalam rentang usia ini mengaku pernah melakukan perselingkuhan, angka ini melampaui kelompok usia lainnya.
Sebagai perbandingan, pada kelompok usia 50 hingga 69 tahun, angka perselingkuhan tercatat di kisaran 24 persen. Sementara itu, bagi pria berusia 80 tahun ke atas, tingkat perselingkuhan masih tergolong signifikan, yakni sekitar 24 persen.
Temuan ini mengindikasikan bahwa risiko perselingkuhan tidak serta merta menurun drastis seiring bertambahnya usia, melainkan tetap menjadi perhatian serius bahkan di usia lanjut.
Perbedaan Pola Perselingkuhan Pria dan Wanita
Studi yang sama turut mengungkap adanya perbedaan mencolok dalam pola perselingkuhan antara pria dan wanita. Secara umum, pria dilaporkan lebih sering berselingkuh dibandingkan wanita.
Data dari AARP Magazine menunjukkan bahwa 46 persen pria pernah mengaku berselingkuh, berbanding terbalik dengan angka 21 persen pada wanita. Kesenjangan ini semakin melebar seiring bertambahnya usia.
Menariknya, pada usia di bawah 30 tahun, tingkat perselingkuhan antara pria dan wanita cenderung seimbang, masing-masing sekitar 10 hingga 11 persen. Namun, perbedaan ini menjadi semakin signifikan pada kelompok usia yang lebih tua, mengindikasikan pengaruh usia dan pengalaman hidup terhadap dinamika hubungan jangka panjang.
Faktor Generasi Turut Memengaruhi
Para peneliti juga menyoroti peran penting dari perbedaan generasi atau cohort effect dalam tingginya angka perselingkuhan pada pria usia lanjut. Wendy Wang, Direktur Penelitian di IFS, menjelaskan bahwa generasi yang lahir pada dekade 1940-an dan 1950-an menunjukkan tingkat perselingkuhan yang lebih tinggi dibandingkan generasi lainnya.
“Efek generasi kemungkinan berkontribusi pada perubahan kesenjangan gender dalam perselingkuhan,” ujar Wang. “Misalnya, orang Amerika yang lahir pada 1940-an dan 1950-an melaporkan tingkat hubungan di luar nikah tertinggi, mungkin karena mereka tumbuh saat revolusi seksual terjadi.”
Fenomena ini menegaskan bagaimana norma sosial dan perubahan budaya di masa lalu dapat terus membentuk perilaku hubungan hingga usia senja.
Mengapa Risiko Tetap Tinggi di Usia Lanjut?
Beberapa faktor diduga berkontribusi pada tingginya risiko perselingkuhan pada pria usia lanjut. Salah satunya adalah perubahan dinamika hubungan setelah bertahun-tahun menikah. Pada fase ini, sebagian individu mungkin mengalami kejenuhan, perubahan peran dalam keluarga, atau berkurangnya kedekatan emosional dengan pasangan.
Selain itu, faktor kesehatan, masa pensiun, dan perubahan gaya hidup juga dapat memicu pencarian validasi atau pengalaman baru. Namun, penting untuk diingat bahwa kesetiaan dalam hubungan sangat dipengaruhi oleh komunikasi, kualitas hubungan, dan nilai personal, bukan semata-mata faktor usia.






