JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah hiruk pikuk kawasan Pademangan, Jakarta Utara, sebuah pemandangan berbeda tersaji pada peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026). Sekelompok anak-anak, dengan anggun mengenakan kebaya, berkumpul di depan sebuah bangunan sederhana yang berdiri di pinggir jalan tol. Mereka antre sabar menanti giliran untuk menerima nasi kuning beserta lauk pauk yang dibagikan oleh dua perempuan berserbya kebaya pink.
Dua perempuan tersebut tak lain adalah Sri Irianingsih dan Sri Rossyati, 75 tahun, yang akrab disapa “Ibu Guru Kembar”. Keduanya adalah pendiri dan pengajar Sekolah Darurat Kartini, sebuah institusi pendidikan gratis yang didedikasikan untuk anak-anak kurang mampu.
Selama lebih dari tiga dekade, Irianingsih dan Rossyati telah mencurahkan hidup mereka untuk mendidik generasi muda. Gagasan mendirikan sekolah ini berawal dari keprihatinan mendalam yang mereka saksikan puluhan tahun lalu.
“Ada anak-anak segini ngambil sampah di jalan, dimakan. Saya di restoran, kok belakangnya begini? Saya bilang, ‘Ini 10 tahun kemudian mereka mau jadi apa? 20 tahun kemudian mau jadi apa?’,” ujar Ibu Rossy, sapaan akrab Sri Rossyati, saat ditemui Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Sejak tahun 1990, kedua saudari kembar ini memulai perjuangan membangun sekolah tersebut dari nol. Seluruh kebutuhan operasional mereka penuhi dengan memanfaatkan sumber daya pribadi dan dukungan keluarga.
Keseharian Irianingsih dan Rossyati tidak hanya berkutat pada kegiatan mengajar. Mereka juga memastikan setiap anak yang belajar di Sekolah Darurat Kartini mendapatkan asupan makanan yang layak, pakaian, hingga kebutuhan kebersihan diri.
Pengabdian tanpa pamrih ini tentu saja memengaruhi kehidupan pribadi mereka. Waktu luang dan kesenangan pribadi perlahan disisihkan demi kelangsungan sekolah.
“Ya ada yang dikorbankan itu sama kesenangan,” tutur Ibu Rossy.
Selain tantangan finansial dan pengorbanan pribadi, keduanya juga menghadapi kesulitan lain, terutama terkait bantuan yang terkadang kurang tepat sasaran. Namun, niat untuk berhenti tak pernah terlintas di benak mereka.
“Pindah sana pindah sini, saya bilang kalau saya tutup ini, anak segitu dulu 3.000, terus saya taruh ke mana semua?,” ucapnya, menunjukkan betapa besar tanggung jawab yang mereka emban.
Pendekatan Holistik untuk Masa Depan Anak
Sri Irianingsih, atau yang akrab disapa Ibu Rian, menambahkan bahwa pendekatan pendidikan di sekolah ini tidak hanya berfokus pada aspek akademis. Dengan latar belakang pendidikannya di bidang psikologi, ia melihat pentingnya membekali anak-anak dengan keterampilan hidup.
Oleh karena itu, selain materi pelajaran formal, para siswa juga diajarkan berbagai keterampilan praktis, mulai dari menjahit hingga keterampilan kerja lainnya.
“Akademis ditambah keterampilan karena untuk bekalnya mereka,” jelas Ibu Rian.
Selama puluhan tahun, Ibu Rian dan Ibu Rossy telah menyaksikan ribuan anak dari keluarga kurang mampu tumbuh dan berkembang di bawah bimbingan mereka. Sejak usia dini, anak-anak ini telah menjadi bagian dari keluarga besar Sekolah Darurat Kartini.
Perjalanan panjang sekolah ini telah melahirkan banyak alumni yang kini telah menorehkan prestasi. “Ada yang S3 sekarang di Australia,” ungkap Ibu Rian dengan bangga, menjadi bukti nyata keberhasilan perjuangan mereka.






