Tren

Saat Anak Punk Bangun Depot Sayur dan Kejar Mimpi “Swasembada Punk-an”

Advertisement

Pasar Legi, Solo, menjadi titik awal perjalanan baru Hilman Ramadhon (29) dalam mencari nafkah. Dua tahun lalu, pada Desember 2024, pria asal Jakarta ini pertama kali menginjakkan kaki di pasar tradisional tersebut pada dini hari, mengenakan pakaian rapi layaknya seorang pencari kerja. Meski tatapan heran para pedagang tak dihiraukan, tekadnya untuk segera bekerja sudah bulat. Saat itu, ia telah tiga bulan menetap di Solo, menumpang di rumah seorang rekan, namun usahanya berjualan kopi gerobakan tak kunjung membuahkan hasil yang cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

“Kalau kayak gini terus enggak cukup karena kami butuh makan, enggak mencukupi kebutuhan,” ungkap Hilman kepada Kompas.com di kediamannya di Manahan, Solo, Selasa (21/4/2026). Di Pasar Legi, ia akhirnya bertemu dengan seorang rekan yang berprofesi sebagai penjual sayur. Hari itu juga, Hilman memulai pekerjaan barunya sebagai kurir sayur.

Dari Jakarta ke Solo, Mencari Titik Balik

Momen memasuki Pasar Legi di pagi buta itu menjadi penanda perubahan besar dalam hidup Hilman. Pria yang lahir dan besar di Jakarta ini sempat terjerumus dalam gaya hidup punk sejak tahun 2009. Sebelum memutuskan hijrah ke Solo pada pertengahan tahun 2024, Hilman telah lima tahun membuka kedai kopi di ibu kota. Kepindahan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang, mengingat seluruh keluarga dan lima adiknya masih berada di Jakarta.

“Awalnya pindah ke Solo karena keresahan ya, mau cari kerja bingung, Akhirnya, ya sudahlah, kami coba-coba hal-hal yang benar-benar yang aku enggak pernah kepikiran,” tuturnya.

Bersama istri dan anaknya, Hilman memboyong diri ke Solo dengan tujuan utama menemui rekannya. Bulan pertama di Solo dihabiskan dengan membuka kedai kopi gerobakan di depan rumah. Namun, setelah tiga bulan berjalan, memasuki musim hujan, usaha tersebut semakin sepi.

“Dari situ, wah enggak hidup,” kenangnya. Mencari peluang lain, ia lantas beralih menjadi kurir sayur, sebuah pekerjaan yang baru ia ketahui ada di Solo.

Selama dua bulan, Hilman tekun menjalani profesinya sebagai kurir. Setiap pagi, ia mengambil sayuran dari pedagang di Pasar Legi untuk diantarkan kepada pelanggan. Memasuki bulan ketiga, Hilman memutuskan untuk mengikuti jejak temannya menjadi seorang supplier sayuran. Dari sinilah, ia mendirikan usahanya yang diberi nama “Depot Sayur Sejahtera”.

“Jadi aku sekarang lebih ke supplier sayuran ke resto, rumah tanggaan, dan katering,” jelasnya.

“Depot Sayur Sejahtera” dan Kebangkitan Melalui Media Sosial

“Depot Sayur Sejahtera” menjadi tulang punggung ekonomi keluarga Hilman saat ini, dibangun atas dasar pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat.

“Kami awalnya kepikiran kalau kebutuhan utama kami apa sih sebenarnya? Oh, kebutuhan pangan, akhirnya kepikiran buat buka ini,” ceritanya.

Namun, perjalanan bisnis ini tidaklah mulus. Toko sayurnya sempat sepi pembeli, menyebabkan sayuran yang dijual menjadi layu dan terbuang sia-sia. Di tengah kebingungan, Hilman tidak menyerah. Ia mulai menyusun strategi promosi melalui media sosial.

Advertisement

Bersama rekan punk-nya, Hafid (22), yang akrab disapa Kipli, Hilman membuat video keseharian mereka. Tampilan Kipli yang khas anak punk—jaket kulit, celana ketat, sepatu boots, rambut mohawk berwarna merah, dan aksesori punk lainnya—menjadi daya tarik tersendiri. Keunikan inilah yang membuat konten mereka viral, perlahan menarik perhatian pelanggan yang kemudian mulai memesan melalui pesan langsung.

“Swasembada Punk-an”: Mengubah Stigma Lewat Tagline Unik

Pasca viral, “Depot Sayur Sejahtera” lebih dikenal masyarakat sebagai “sayuran punk” berkat penampilan Kipli. Hilman tidak merasa tersinggung, baginya punk adalah bagian dari masa lalu yang membentuk dirinya.

“Sekarang banyak yang melabeli sayur punk, ya udahlah kami jalan aja,” ujarnya.

Ia bahkan menggunakan istilah punk sebagai tagline usahanya, “swasembada punk-an”.

“Filosofi swasembada pangan itu karena aku sendiri dari awal memang pengen memanfaatkan kekuatanku sendiri, baik tenaga dan pikiran untuk membangun swasembada pangan.”

Melalui tagline ini, Hilman berupaya mengubah stigma negatif masyarakat terhadap anak punk. Ia mengaplikasikan nilai-nilai punk, seperti motto “Do It Yourself” (DIY), ke dalam bisnisnya. Filosofi ini sejalan dengan prinsip tanggung jawab diri yang menjadi pondasi Hilman dalam membangun usaha swasembada punk-an.

“Di situ aku mencoba membuktikan kalau anak punk yang selalu dipandang malas, problematic, itu ada kok yang mau bekerja, mau usaha untuk dirinya sendiri,” ungkapnya.

Kini, unit usahanya telah menjadi supplier bagi berbagai restoran, katering, dan kebutuhan rumah tangga. Omzet bulanan yang diraup Hilman berkisar antara Rp 50-70 juta, bahkan bisa lebih tergantung pada keramaian.

Penghasilan tersebut tidak hanya cukup untuk menghidupi anak dan istrinya, tetapi juga Kipli, satu-satunya karyawan yang membantunya setiap hari.

Sumber: http://www.kompas.com/tren/read/2026/04/22/140000765/saat-anak-punk-bangun-depot-sayur-dan-kejar-mimpi-swasembada-punk-an-

Advertisement