BEIJING – Keputusan tak lazim diambil oleh seorang perempuan muda bernama Qin, 29 tahun, asal Guilin, Provinsi Guangxi, China. Alih-alih mengejar karier di kota besar pasca-lulus kuliah, ia memilih kembali ke kampung halaman untuk meneruskan dan mengembangkan bisnis keluarga: peternakan ular. Bisnis yang digelutinya kini bukan sembarangan, melainkan ribuan ular berbisa, yang justru mampu meraup keuntungan fantastis hingga Rp 2,5 miliar per tahun.
Qin, yang lahir pada 1995, awalnya ragu untuk terlibat dalam bisnis yang dianggapnya penuh risiko tersebut. Ayahnya, yang telah beternak ular sejak sebelum Qin lahir, sempat menentang keterlibatan putrinya. Namun, seiring berkembangnya usaha, Qin akhirnya memutuskan untuk turun tangan membantu mengelola peternakan yang kian membesar.
Kini, Qin mengelola lebih dari 60.000 ekor reptil. Angka ini mencakup lebih dari 50.000 ular jenis five-step snake, yang terkenal dengan racunnya yang mematikan, serta hampir 10.000 ekor ular kobra. “Ular five-step harus diberi makan secara khusus, dan kontak langsung tetap memiliki risiko tinggi,” ujar Qin, seperti dikutip dari South China Morning Post, Senin (20/4/2026).
Meski menyadari bahayanya, Qin mengaku sudah terbiasa. “Saya tidak terlalu takut dengan ular five-step. Ayah saya sudah memelihara ular sejak sebelum saya lahir,” ungkapnya kepada Haibao News.
Manfaatkan Daging hingga Bisa Ular
Dalam industri tradisional di wilayah Guangxi, ular memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Daging, kantong empedu, hingga minyak ular dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan tradisional. Sementara itu, bisa ular menjadi komoditas berharga untuk penelitian medis.
Setiap ular five-step mampu menghasilkan bisa sekitar dua kali dalam sebulan. Harga bisa ini bervariasi, mulai dari 40 hingga 200 yuan (sekitar Rp 100.000 hingga Rp 500.000) per gram, tergantung kualitasnya. Daging ular pun tak kalah menggiurkan, dijual antara 200-300 yuan (Rp 500.000-Rp 750.000) per ekor. Untuk ular berukuran besar, harganya bisa mencapai lebih dari 1.000 yuan (Rp 2,5 juta).
Setelah dikurangi biaya operasional dan tenaga kerja, bisnis peternakan ular ini mampu membukukan pendapatan tahunan lebih dari 1 juta yuan, atau setara dengan Rp 2,5 miliar.
Populer di Media Sosial
Tak hanya fokus pada bisnisnya, Qin juga aktif membagikan kesehariannya di media sosial dengan akun bernama “The Girl Who Collects Snake Venom”. Akun ini telah diikuti oleh lebih dari 22.000 pengguna.
Melalui unggahannya, Qin kerap menjawab pertanyaan warganet, termasuk mengenai risiko pekerjaannya. “Kalau ada yang bilang tidak takut digigit ular, berarti dia belum pernah mengalaminya,” tegasnya.
Ia menggambarkan rasa sakit akibat gigitan ular five-step sebagai pengalaman yang luar biasa ekstrem. “Bukan hanya bagian yang digigit yang sakit. Rasa sakitnya bisa menjalar ke lengan, bahu, bahkan seluruh tubuh. Ada yang bilang, setelah digigit, mereka lebih memilih diamputasi daripada menahan rasa sakit itu lagi,” tuturnya.
Reaksi Warganet
Kisah Qin sontak menjadi viral dan menarik perhatian warganet di China. Banyak yang mengungkapkan kekaguman atas keberaniannya bekerja di industri berisiko tinggi.
“Ini bukan uang yang bisa didapat sembarang orang. Saya kira awalnya ular biasa, ternyata ular berbisa,” tulis salah satu komentar warganet.
Komentar lain menyoroti keberanian Qin. “Saya bahkan takut melihat ular. Dia luar biasa dan memang pantas mendapatkan penghasilan itu,” ujar warganet lainnya.






