Regional

Tiga Pemuda Pasuruan Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Hidroponik

Advertisement

PASURUAN, KOMPAS.com — Tiga pemuda asal Kota Pasuruan, Jawa Timur, berhasil mengubah lahan kosong yang tidak produktif menjadi kebun hidroponik yang tidak hanya menghasilkan sayuran segar, tetapi juga mendatangkan keuntungan finansial. Hasil panen mereka kini telah merambah ke sejumlah toko ritel hingga memenuhi kebutuhan dapur Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Di kebun yang berlokasi di Griya Tani, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, hamparan ribuan bibit selada dan pakcoy tampak menghijau subur. Aktivitas panen dan penyemaian bibit menjadi rutinitas harian para petani muda ini.

“Ya seperti ini aktivitas kami tiap hari, mulai jam 7 hingga 10 pagi,” ujar Sandhy Pratama Putra (25), salah satu penggagas kebun tersebut, pada Rabu (22/4/2026).

Berawal dari Lahan Mangkrak

Sandhy menceritakan, sebelum sepenuhnya menekuni dunia pertanian perkotaan, ia telah aktif dalam komunitas urban farming selama empat tahun saat masih menempuh pendidikan sebagai mahasiswa ilmu pertanian di Universitas Merdeka Pasuruan. Pengalamannya ini menjadi bekal penting saat ia menemukan lahan kebun yang terbengkalai.

Setelah bernegosiasi dan menjalin kesepakatan dengan pemilik lahan, Sandhy akhirnya mendapatkan izin untuk mengelola area tersebut. “Setelah saya nego, akhirnya bisa kerja sama hingga jalan dua tahun terakhir ini,” katanya.

Gunakan Sistem Hidroponik NFT

Dengan keterbatasan modal awal, Sandhy bersama dua rekannya, Rizki Zuhrufatul (24) dan M. Samsuri (26), memutuskan untuk membangun kebun hidroponik pada awal tahun 2024. Mereka memilih sistem Nutrient Film Technique (NFT) sebagai metode utama penanaman.

Sistem NFT bekerja dengan mengalirkan air nutrisi melalui pipa yang dipasang miring. Aliran ini dirancang agar air tidak menggenang di dalam pipa.

“Dengan NFT tersebut, air tidak sampai menggenang sehingga mengurangi risiko busuk akar,” jelas Sandhy.

Menurut Sandhy, bercocok tanam dengan sistem hidroponik di tengah perkotaan memiliki keunggulan signifikan karena pasar untuk produk mereka sudah tersedia. Selain dipasarkan ke pasar tradisional, hasil panen juga disuplai ke toko ritel modern dan dapur SPPG.

Advertisement

Bahkan, karena keterbatasan lahan, mereka mengaku belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar yang ada. “Jadi tidak khawatir untuk pasar pembelinya,” ujarnya menambahkan.

Produksi dan Standar Ketat

Saat ini, kebun hidroponik yang membentang seluas 364 meter persegi tersebut mampu menghasilkan sekitar 50 hingga 70 kilogram sayuran per minggu. Beragam jenis sayuran seperti pakcoy, selada, sawi, dan kangkung berhasil dibudidayakan.

Namun, tidak semua jenis sayuran dapat dipasarkan ke toko ritel. Hal ini dikarenakan adanya standar kualitas yang sangat ketat yang harus dipenuhi.

“Harus hijau, tidak berlubang, bersih hingga akar. Tentu harganya lebih tinggi sedikit,” jelas Sandhy mengenai kriteria sayuran yang bisa masuk ke toko ritel.

Sandhy berharap inisiatif mereka dapat memicu pemerintah untuk mendorong lebih banyak pemuda agar turut memanfaatkan lahan-lahan tidak produktif menjadi usaha pertanian yang menguntungkan.

“Mungkin ada baiknya pemerintah menggerakkan pemuda untuk memanfaatkan pekarangan yang tidak produktif untuk menjadi cuan,” harapnya.

Sumber: http://surabaya.kompas.com/read/2026/04/22/134750478/tiga-pemuda-pasuruan-sulap-lahan-kosong-jadi-kebun-hidroponik

Advertisement