JAKARTA, KOMPAS.com — Pabrikan pesawat Boeing mengawali tahun 2026 dengan perbaikan kinerja keuangan yang signifikan, meskipun upaya pemulihan bisnis komersial dan pertahanan masih terus berjalan. Pada kuartal I 2026, perusahaan membukukan pendapatan sebesar 22,2 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 381,7 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.194 per dollar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Seiring dengan lonjakan pendapatan, kerugian bersih perusahaan juga berhasil menyusut tajam menjadi 7 juta dollar AS (sekitar Rp 120,4 miliar). Angka ini jauh lebih baik dibandingkan kuartal I 2025 yang mencatat rugi sebesar 31 juta dollar AS (sekitar Rp 533 miliar).
Presiden sekaligus Chief Executive Officer Boeing, Kelly Ortberg, menyatakan bahwa perusahaan terus menunjukkan kemajuan dalam upaya menstabilkan operasi. “Perusahaan kami bergerak ke arah yang benar seiring kami terus meningkatkan kinerja operasional dan melaksanakan rencana pemulihan kami,” ujar Ortberg dalam paparan kinerja kuartalan perusahaan, dikutip dari laman resmi Boeing, Rabu (22/4/2026).
Kenaikan Pengiriman Pesawat Menjadi Penopang Utama
Perbaikan kinerja keuangan Boeing pada kuartal I 2026 terutama ditopang oleh peningkatan pengiriman pesawat komersial. Selama periode tersebut, Boeing berhasil mengirimkan 143 unit pesawat, meningkat dari 130 unit pada kuartal I 2025.
Segmen Commercial Airplanes mencatat pendapatan sebesar 9,2 miliar dollar AS (sekitar Rp 158,2 triliun), naik 13 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh volume pengiriman yang lebih tinggi.
Meskipun demikian, segmen komersial ini masih membukukan kerugian operasional sebesar 563 juta dollar AS (sekitar Rp 9,68 triliun). Margin operasi yang masih negatif ini mencerminkan tantangan yang belum sepenuhnya teratasi dalam pemulihan produksi dan rantai pasok.
Peningkatan Produksi dan Prospek Varian Baru
Di lini produksi, Boeing terus berupaya meningkatkan output pesawat Boeing 737 MAX hingga 42 unit per bulan, seiring dengan pelonggaran pembatasan regulator. Perusahaan juga melanjutkan ekspansi lini produksi baru 737 MAX di Everett, Washington, Amerika Serikat.
Boeing menargetkan sertifikasi untuk varian 737 MAX 7 dan MAX 10 dapat tercapai pada tahun 2026, dengan pengiriman dimulai pada tahun 2027.
Kemajuan di bisnis komersial juga tercermin dari pertumbuhan backlog atau nilai pesanan tertunda yang mendekati 700 miliar dollar AS (sekitar Rp 12.035 triliun). Angka ini menjadi indikator kuatnya permintaan jangka panjang di tengah pemulihan industri penerbangan global.
Arus Kas Negatif Masih Menjadi Tantangan
Di tengah kenaikan pendapatan dan pengiriman, Boeing masih menghadapi tantangan arus kas bebas yang negatif. Perusahaan membukukan cash burn sebesar 1,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 25,79 triliun) pada kuartal I 2026. Dana tersebut dialokasikan untuk investasi peningkatan produksi, pengembangan lini manufaktur, dan program pesawat berbadan lebar.
Ortberg menekankan bahwa fokus perusahaan saat ini tidak hanya pada perbaikan profitabilitas, tetapi juga pada stabilisasi produksi dan pengiriman. “Kami fokus pada peningkatan produksi secara aman, peningkatan pelaksanaan di seluruh program kami, dan pemulihan kinerja keuangan,” katanya.
Manajemen Boeing tetap menargetkan pembalikan menuju arus kas positif pada akhir 2026, yang didorong oleh peningkatan output dan disiplin biaya.
Bisnis Pertahanan dan Jasa Berkontribusi Positif
Selain bisnis komersial, segmen Defense, Space & Security juga memberikan kontribusi positif terhadap hasil kuartalan Boeing. Unit ini mencatat laba operasional sebesar 233 juta dollar AS (sekitar Rp 4,01 triliun), melonjak 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini didukung oleh meningkatnya permintaan pertahanan global dan kontribusi dari program seperti Artemis II dan pesawat militer.
Di sektor layanan, Boeing Global Services juga mencatat pertumbuhan pendapatan operasi sebesar 971 juta dollar AS (sekitar Rp 16,69 triliun), naik 3 persen secara tahunan. Meskipun margin sedikit tertekan pasca-divestasi unit Jeppesen, bisnis jasa ini dinilai tetap memberikan kontribusi yang stabil bagi kinerja grup.
Secara keseluruhan, hasil kuartal I 2026 memberikan sinyal awal pemulihan bagi Boeing. Kerugian inti per saham tercatat 20 sen, jauh lebih baik dari ekspektasi analis yang memprediksi 83 sen.
Fokus Pemulihan Berlanjut
Peningkatan pengiriman pesawat menjadi sorotan utama dalam kinerja operasional Boeing. Dari total 143 pesawat komersial yang dikirim pada kuartal pertama, 114 unit berasal dari keluarga 737. Volume ini melampaui ekspektasi pasar dan berkontribusi pada peningkatan penjualan serta perbaikan prospek arus kas perusahaan pada paruh kedua tahun ini.
Ortberg menegaskan komitmen perusahaan untuk terus fokus pada eksekusi program dan pemulihan bertahap. “Kami terus membuat kemajuan dalam pemulihan kami dan tetap fokus pada pelaksanaan rencana kami,” ujarnya.
Dengan pendapatan 22,2 miliar dollar AS, kerugian bersih yang menyusut menjadi 7 juta dollar AS, dan backlog yang mendekati 700 miliar dollar AS, kuartal I 2026 menjadi indikator penting arah pemulihan Boeing sepanjang tahun 2026.






