Presiden RI Prabowo Subianto menerima sambungan telepon dari Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pada Selasa (21/6/2026) sore. Percakapan tersebut berfokus pada kesepakatan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Negeri Kanguru.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi isi pembicaraan kedua pemimpin negara. “PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama,” ujar Teddy melalui unggahan di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet, @sekretariat.kabinet, pada hari yang sama.
Ekspor Pupuk Urea Meluas ke Sejumlah Negara
Lebih lanjut, Teddy menjelaskan bahwa komitmen ekspor pupuk urea Indonesia tidak hanya terbatas pada Australia. Ke depannya, Indonesia berencana untuk melakukan ekspor ke sejumlah negara lain.
“Ke depan, sebagian pupuk urea juga akan diekspor ke India, Filipina, Thailand, dan Brasil, dengan total komitmen ekspor mencapai kurang lebih 1 juta ton,” ungkap Teddy dalam unggahan tersebut.
Upaya ini sejalan dengan data produksi pupuk urea nasional yang disampaikan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Menurut data tersebut, total produksi urea nasional mencapai 7,8 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan pupuk urea dalam negeri tercatat sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi yang memungkinkan Indonesia untuk berkontribusi di pasar global.
“Langkah ini diharapkan tetap menjaga ketahanan pasokan domestik sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia di pasar global,” imbuh Teddy.






